Shalom!
Ada suka cita tersendiri bagi Saya, ketika Saya bisa kembali menyapa teman-teman melalui tulisan Saya di blog ini. Kali ini, Saya tergerak ingin berbagi pelajaran-pelajaran kehidupan yang Saya petik dalam perjalanan pencarian Cinta Sejati yang masih Saya jalani hingga hari ini.
Part 1 : Jangan Terburu-buru, berteman saja dulu
Tidak banyak yang tahu, siapa saja laki-laki yang pernah dekat bahkan menjalin hubungan dengan Saya. Sejujurnya, Saya memang cenderung tertutup untuk kisah asmara. Mungkin keluargalah yang paling mengerti masalah ini. Sikap Saya yang tertutup ini pula yang membuat sering kali Saya di-cap "Jomblo Akut", "Tidak Laku" dan "Cewek Pemilih" serta predikat-predikat lainnya. Tanggapan Saya seperti apa? Biasanya Saya cuma menanggapi sambil tertawa atau mungkin mengalihkan pembicaraan. Daaaannn, inilah kenyataannya.
Cinta pertama Saya jatuh kepada seorang anak lelaki seusiaan Saya, anak kedua dari lima bersaudara, anak dari seorang hamba Tuhan di gereja lokal tempat Saya bertumbuh saat itu. Sebut saja namanya Benny, bukan nama sebenarnya. Waktu itu kami masih sama-sama berusia 12 tahun, Saya duduk di kelas 1 SMP dan dia duduk di kelas 2 SMP. Kami masih terlalu kecil untuk memahami artinya pacaran. Bahkan pemahaman kami tentang pacaran pun masih sangat minim. Yang Saya tahu, pacaran itu adalah hubungan dari 2 orang manusia berlawanan jenis yang saling tertarik satu sama lain. Bahasa kerennya, saling jatuh cinta kemudian sepakat untuk menghabiskan hari-hari bersama, bercerita, mungkin juga saling mengirim surat, saling bertukar kado pada momen-momen tertentu. Yang mana seharusnya, ini hanya sepuluh persen bagian dari pacaran.
Baca juga : Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 2 : Cintai Diri Sendiri Saja Dulu, Baru Cintai Orang Lain
Pemahaman tentang pacaran yang sedikit bergeser ini pula lah yang menjadi kendala terbesar kami. Saya tidak pernah memberi tahu bahwa orang tua dan abang Saya tidak mengizinkan Saya berpacaran dengan alasan yang Saya belum mengerti pada saat itu. Begitu pula kami terlalu jarang berjumpa, karena kami sekolah di sekolah yang berbeda dan untuk beberapa saat Saya berhenti ikut ibadah kaum remaja karena harus menjaga Ibu Saya yang jatuh sakit cukup parah. Keadaan ini akhirnya membuat terjadi berbagai kesalahpahaman yang pelik diantara kami.
Suatu kali, komunikasi yang tidak baik membuat Saya salah paham sama dia. Salah seorang teman sekelas Saya mengaku bahwa Benny membelikan sebuah boneka sebagai kado Valentine untuk nya. Saya marah besar, saya cemburu. Tidak adanya rasa percaya membuat sebuah hubungan menjadi retak. Padahal setelah beberapa waktu berlalu, menurut beberapa orang terdekat Benny, boneka itu seharusnya dibelikan untuk Saya. Yang sampai hari ini, Saya nggak pernah tahu apakah yang disebutkan sumber itu benar atau tidak.
Konflik puncak terjadi, terjadi Benny datang ke rumah Saya. Bersama seorang salah seorang teman kami. Teman itu dengan gamblangnya bertanya, "Jadi, hubungan kalian sekarang sebenarnya seperti apa?" Obrolan itu tercetus di depan orang tua Saya. Dengan sangat berat hati, Saya akhirnya menjawab, "Kami hanya berteman kok. Emangnya kenapa?" Saya bisa mengerti, mungkin hari itu Benny begitu kecewa dengan jawaban Saya. Sementara Saya sebenarnya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Benny. Saya tidak pernah bermaksud untuk tidak mengakui Benny sebagai pacar Saya. Sekali lagi, komunikasi lah yang seharusnya berperan penting di sini.
Kejadian ini memberikan tamparan keras buat Saya. Sejak saat itu, Benny tidak lagi sama. Dia bukan lagi Benny yang selama ini mengisi hari-hari Saya, Benny yang manis, Benny yang sopan, dia menjadi asing bagi Saya. Saya tidak menyalahkan Benny dalam hal ini. Saya yang salah, Saya tidak taat sama orang tua dan abang Saya. Saya tidak percaya bahwa mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk Saya.
Berangkat dari pelajaran ini pula, membuat Saya jadi tidak ingin buru-buru dalam menjalin sebuah hubungan.
Saya belajar beberapa hal dari hubungan ini, seperti :
a. Bisakah Saya memercayai orang ini?
b. Bisakah Dia memercayai Saya?
c. Seberapa jauh kami bisa saling mengomunikasikan keadaan satu sama lain?
d. Seberapa jauh kami bisa saling memahami apa yang masing-masing rasakan?
Sejak saat itu, Saya cukup trauma dengan sebuah hubungan. Saya lebih memilih menjadikan lelaki yang dekat dengan Saya menjadi sahabat dibandingkan pacar. Saya pikir jika persahabatan itu cukup berhasil, tidak menutup kemungkinan untuk menjadi pasangan.
Sekarang Saya mengerti, mengapa waktu itu orang tua dan abang Saya tidak setuju Saya pacaran pada usia yang terlalu dini. Menjalin sebuah hubungan sesungguhnya adalah luka yang tertunda. Sebuah hubungan bukanlah sekadar untuk tertawa bersama, romantis-romantis cinta monyet belaka. Tetapi hubungan bicara tentang dua kepribadian yang rela untuk melebur menjadi satu.
Pacaran bukan untuk Anak Baru Gede yang ingin memadu kasih. Tapi pacaran untuk dua orang dewasa yang ingin membangun sebuah pernikahan.
Untuk adik-adik yang masih di bawah 18 tahun, saran Saya berteman saja dulu, kenalah lebih banyak orang. Jika ada satu yang paling menarik, jadikan dia sahabat. Masa remaja hanya butuh sahabat untuk berbagi suka duka, belajar bagaimana bersikap sama orang yang kita sayangi, bagaimana menyayangi dalam batasan-batasan tertentu.
Jadi, jangan terburu-buru, berteman saja dulu!
Inilah aku dengan secuil arti yang kuberi, sebagaimana tujuan aku diciptakan dan sebagaimana suatu hari nanti aku 'kan dikenang.
- Maria Elly Rusfendy -
Baca juga : Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 2 : Cintai Diri Sendiri Saja Dulu, Baru Cintai Orang Lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar