Salam sejahtera!
Seperti yang kita ketahui beberapa
waktu yang lalu, negara kita tengah merayakan pesta demokrasi yang sangat kita
tunggu-tunggu. Ya, dimana kita harus memilih pemimpin selanjutnya bagi bangsa
ini. Masih hangat-hangatnya buah bibir ratusan juta rakyat Indonesia tentang
pilihan masing-masing. Tentu kita sudah tahu siapa saja yang menjadi kandidat
pemimpin masa depan bangsa kita. Bahkan ada banyak orang yang rela saling
berdebat hanya ingin mempertahankan pendapat mereka tentang sosok-sosok anak
bangsa yang terpilih sebagai calon pemimpin Indonesia di masa yang akan datang.
Termasuk salah satu yang melakukan perdebatan itu adalah saya dan bapak saya. Meskipun
saya bukan seorang mahasiswi yang begitu tertarik dengan dunia politik.
Suatu kali, saya mendengar seorang dari antara
mereka mendeklarasikan visi dan misi mereka pada acara yang sering kita sebut
dengan kampanye. Kemudian ia menyelip kalimat-kalimat yang diharapkannya dapat
membius rakyat Indonesia agar memilih dirinya. Yang dapat saya kutip, ia
berkata, “Apabila saya menjadi Presiden, saya akan bertanggung jawab untuk
mengubah Indonesia menjadi negara maju. Jangan salah pilih pemimpin anda!
Pilihlah yang terbaik bagi bangsa ini! Saya akan menyejahterakan Indonesia!
Saya akan membangkitkan kembali kehormatan bangsa ini di mata dunia!”
Saat itu saya hanya terperongo
mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan beliau dengan semangat yang
menggebu-gebu. Namun sejurus kemudian, entah kenapa saya merasa kalimat ini
sungguh mencerminkan kesombongan yang dimilikinya. Bagaimana mungkin ia seorang
diri bersama dengan wakilnya dapat mengubah Indonesia ini menjadi negara maju?
Bagaimana mungkin dengan kekuatannya semata ia mampu menyejahterakan Indonesia?
Dalam hati saya berteriak, “Anda salah, Pak! Anda sama sekali tidak bisa mengubah
Indonesia ini menjadi negara maju! Kekuatan anda sendiri tidak bisa
menyejahterakan negara ini!” Namun kalimat itu tak mampu terucap dari bibir
saya, karena bapak saya merupakan salah satu pendukung beliau.
Bagi saya, masa depan bangsa ini
berada di tangan para anak-anak muda bukan Presiden Indonesia. Generasi yang
akan melanjutkan nafas kehidupan dan nasib bangsa. Apakah bangsa ini akan tetap
menjadi negara miskin atau akan beranjak menuju ke arah yang lebih baik? Jawabannya
hanya ada pada generasi muda penerus bangsa, bukan pada calon pemimpin negara. Kita
sebagai anak muda yang seharusnya sadar bahwa kita harus memulai perubahan demi
perubahan dari diri kita sendiri. Membuang kebiasaan buruk dengan
membuang-buang waktu di diskotik, menghentikan kesenangan kita untuk mencuri
jam sekolah untuk pergi ke tempat-tempat lain tanpa izini orang tua alias “bolos”.
Mari kita belajar mencintai tubuh kita dengan tidak lagi menjalin hubungan
bebas, hamil diluar pernikahan (bagi remaja putri), dan membiarkan anak-anak
kita terlantar di jalanan. Seharusnya kita tidak lagi mencari-cari pemimpin
yang mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik tapi menyadari bahwa kitalah
yang harus mengubah Indonesia.
Jangan pernah membiarkan diri kita
dibius oleh oknum-oknum penguasa dan mengambil alih hak kita untuk
bualan-bualan mereka. Mari kita tunjukkan bahwa kita generasi muda mampu
mengemban tanggung jawab kita dan tidak lagi diperdaya oleh oknum-oknum nakal
seperti dia. Buktikan kualitas kita sebagai anak bangsa membawa Indonesia
menjadi lebih baik, lebih hebat dan berwibawa di mata dunia.
Dan tidak lupa bagi orang-orang tua
untuk mengingatkan kami anak-anak muda. Agar kami tetap berjalan pada visi dan
misi bangsa untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Tidak lagi dibutakan oleh
kesombongan-kesombongan calon pemimpin yang mengumbar-umbar janji bodoh semata.
Tidakkah kita sadari bahwa bukan janji yang kita perlu, tapi bukti yang membawa
kita menuju jalan yang seharusnya kita tempuh untuk menjadi negara yang berdiri
sendiri dan berdampak bagi manca negara. Jadi sekali lagi saya tegaskan, jangan
pernah berpikir bahwa pemimpinlah yang dapat mengubah Indonesia melainkan
generasi mudalah tumpuan kita. Generasi yang menjadi selimut hangat bagi
anak-anak yang kedinginan, orang-orang tua yang kelaparan dan mereka yang masih
berteriak kesakitan.
Salam semangat anak muda bangsa
Indonesia!
Indonesia Merdeka! Indonesia Negara
Maju!
****