Beberapa tahun yang lalu Saya
berkenalan dengan seorang gadis. Ketika itu Saya baru saja sah menjadi siswa
baru di SMA Negeri 2 Mandau. Sebut saja namanya Rina, Saya mengenal Rina karena
Saya dan Rina sama-sama bagian dari kelas X 6 saat itu. Dengan kata lain, Rina
adalah teman sekelas Saya. Sebelumnya, sempat terbayangkan oleh Saya bahwa teman-teman
baru Saya akan mempermasalahkan perbedaan di antara kami. Benar, hal ini memang
terjadi. Hal ini memang kerap terjadi antar suku di Provinsi Riau, mereka
mengganggap bahwa kami sedikit berbeda dengan mereka. Uniknya, Rina tidak
melakukan hal yang sama. Bahkan sering sekali Rina meyakinkan Saya bahwa tidak
ada sedikit pun yang perlu dipermasalahkan dari setiap perbedaan yang ada.
Singkat
cerita, persahabatan kami semakin dekat. Layaknya anak-anak remaja biasanya,
kami sering bertukar cerita di emperan kelas. Salah satu cerita yang paling
menarik dari cerita kehidupannya ketika Rina bercerita tentang kekasihnya. Menurut
ceritanya, beberapa tahun yang lalu ia mulai membangun hubungan spesial dengan
seorang lelaki yang lebih muda beberapa tahun darinya. Namun sama halnya
denganku, Rina yang lebih tua beberapa tahun dariku ini tak ingin dipanggil
dengan sebutan Kak. Cukup memanggil namanya saja, layaknya teman seusia. Kabarnya,
lelaki ini bukan lelaki remaja biasanya. Ia punya banyak kebiasaan buruk yang
sangat-sangat tidak menyenangkan. Dan masih kabar-kabarnya, lelaki ini banyak
merubah kebiasaan buruk dan belajar untuk hidup lebih baik dari Rina.
Awalnya,
Rina memang sangat tidak suka dengan Ando. Ya, sebut saja nama lelaki itu Ando.
Tapi demi sebuah kedamaian dan ketentraman sekelilingnya, Rina rela
mengorbankan dirinya untuk menjalin tali kasih tanpa cinta di antara mereka. Untungnya
Rina berhasil belajar menerima Ando apa adanya dan menaklukan sikap buruk Ando.
Untuk beberapa saat ini, aku hanya bisa menerima cerita-cerita itu saja
meskipun aku belum tahu sebejat apa Ando itu sebenarnya. Di kelas dua dan
berlanjut ke kelas tiga SMA kami masih tergabung dalam kelas yang sama. Meski
tak selalu bersama tapi kami masih selalu menjalin persahabatan baik.
Rina
mengajarkanku untuk lebih bersikap ramah dan terbuka dengan teman-teman suku
lain. Gadis berkulit sawo matang, bertubuh agak berisi, dan gelak tawa yang
begitu menghibur ini terus saja menjadi gadis yang menyenangkan. Tak pernah
sekalipun terbesit air mata, keluh kesah, sumpah serapah atau hal-hal buruk
yang lainnya. Semakin hari, segenap persahabatan di Kelas 2 IPA 2 dan 3 IPA 2 menghangatkan
cerita. Tawa demi tawa yang tercipta mulai membuat sejarah yang semakin
berwarna. Sayangnya, suatu sore yang kelabu tawa itu mulai tertahan. Saat itu
kami sedang pelajaran tambahan persiapan menuju UAN.
Setelah
seharian mempersiapkan UAS kesenian, latihan vokal grup, kami melanjutkan dengan
mata pelajaran tambahan. Hmm, langit mulai gelap, angin bertiup lebih kencang, awan
berkejar-kejaran seakan menahan amarah. Tiba-tiba, tepat pukul 16.00 WIB petir
besar menggetarkan di atas kelas 3 IPA 2. Suasana kelas yang tadinya masih riuh
rendah mendadak senyap ketakutan, tak terkecuali Rina yang kemudian memegangi
jantungnya sambil merintih kesakitan. Wajahnya yang begitu ceria
sekonyong-konyong berubah pucat tak berdarah. Tubuhnya lemah tak berdaya.
Beberapa
teman menghubungi Bapak Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan yang sudah sangat
akrab dengan kami. Berharap beliau bisa membantu menghantarkan Rina pulang ke
rumah dengan mobil Teriosnya. Mungkin juga karena kami sudah menganggap beliau
bukan lagi sebagai guru tapi sebagai orang tua , yang membuat kami bernyali
mendatangi ruang kelas yang sedang di ajarnya. Singkat cerita, keesokan harinya
Rina menghembuskan nafas terakhirnya. Waktu begitu cepat berlalu, serasa baru
kemarin sore kami berkenalan tapi kini semua sudah menjadi bingkisan kenangan. Suasana
kelas yang biasanya ceria penuh tawa langsung berubah penuh air mata. Bahkan
setiap guru merasa begitu kehilangan sosok Rina.
Mengapa?
Mengapa kami harus kehilangan Rina? Ya, aku tidak pernah peduli dari suku atau
agama apa dia. Aku juga tidak menghiraukan bagaimana orang lain menilai
dirinya. Bagiku, terlalu banyak yang hal
berharga yang ku pelajari darinya.
1.
Aku
belajar menghargai orang-orang yang bersikap tidak biasanya. Belajar berteman
dengan mereka dan mulai mengubahkan hidup mereka dari pertemanan itu. Meskipun
terkadang terasa begitu berat.
2.
Aku
belajar menghargai perbedaan. Meski kami berasal dari suku yang berbeda, agama
yang berbeda dan warna kulit yang juga berbeda namun itu tak menghambat kami
untuk menciptakan tawa demi tawa.
3.
Aku
belajar tidak mengeluh, menjadi kesukaan dimanapun aku berada. Siapa sangka
penyakit jantung yang di deritanya sebegitu parah? Saat itu aku juga sempat
memiliki sebuah gangguan kesehatan, Puji Tuhan, sejak aku belajar untuk tidak
mengeluh dan semangat menghadapi kehidupan kini gangguan kesehatan itu sirna.
Kesembuhan itu juga tidak lepas dari Kasih Tuhan dalam hidupku. Dan siapa pula
yang menyangka bila kepergiaannya meninggalkan milyaran kenangan yang takkan
sirna ditelan masa.
Kalau
orang seperti Rina yang belum pernah mengenal Yesus bisa memberi banyak dampak
positif bagi orang-orang di sekelilingnya, lantas bagaimana dengan kita yang
mengaku pengikut Kristus? Maka mulai saat ini mari kita sama-sama belajar dari
Rina untuk semakin diubahkan menjadi seperti karakter Kristus.
Hmm, ini ceritaku. Bagaimana
dengan mu?
J
Salam manis,
Maria Elly Costhyafelant Munthe