Minggu, 26 Oktober 2014

Jangan Melihat Buku dari Sampulnya Saja



            Hallo!!
            
            Apa kabar? Semoga baik ya. Saya dan orang tua saya di sini juga baik-baik saja. Senang sekali rasanya, saya bisa kembali berbagi pahit manisnya kehidupan melalui blog ini. Seperti sebelumnya, saya mau berterima kasih sekali bagi teman-teman yang setia membaca blog saya. Saya akan senang sekali bila ada teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan kritik dan saran pada kotak komentar di bawah artikel ini.

           Nah, langsung saja pada topik pembicaraan kita ya. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya dalam menilai orang lain. Sebagai makhluk sosial, sudah pasti dalam kegiatan sehari-hari kita akan bertemu dengan berbagai jenis orang. Maka kita juga pasti memiliki berbagai pendapat pada setiap orang yang kita temui, bukan? Setelah mengamati beberapa orang yang saya temui, maka saya menyimpulkan ada empat kategori orang.

         Dua tahun belakangan ini, saya bertemu dengan beberapa orang yang kini terbilang cukup untuk saya sebut sebagai seorang sahabat. Orang pertama, sebut saja namanya Venus, dia adalah pria berbadan besar, berkulit hitam, bersuara besar, berwajah seram dan bersikap santai. Bahkan beberapa orang yang baru saja mengenalnya sempat berkomentar, “Astaga, Maria. Aku gak nyangka, kamu bisa berteman dengan preman seperti ini.” Mungkin setiap orang yang bertemu dia juga akan berkomentar yang sama.

Beberapa bulan kemudian, saya juga bertemu dengan seseorang, sebut saja namanya Pluto. Ia jauh berbeda dengan Venus, berwajah baby face, tampan, berbadan ideal dan berpenampilan layaknya pengusaha kaya meski kenyataannya Venus lebih beruntung dalam hal bisnis. Selanjutnya, saya bertemu dengan Neptunus, pada awal pertemuan saya merasa dia adalah orang paling baik yang pernah saya temui. Selain berwajah tampan, bertubuh ideal, ia juga bertutur kata sopan, bersikap yang super duper membuat orang lain akan berpendapat sama dengan saya bahwa dia adalah malaikat yang turun dari surga. Beberapa kali dia juga membantu saya menemukan solusi untuk masalah-masalah saya.

Kemudian beberapa waktu lalu, saya juga bertemu dengan Saturnus. Yang kali ini, saya bahkan segan untuk menyebutnya sahabat. Dengan penampilan urakan, tanpa sopan santun dan banyak hal yang menyebalkan. Suatu kali, saya bertanya pada beberapa orang gadis seusia saya, pria mana sih yang ingin dijadikannya sahabat? Hampir semua menyebutkan Neptunus dan Pluto tanpa sedikitpun terlintas untuk mengajukan barang satu pertanyaan saja pada saya. Apa yang salah? Tidak ada. Tidak salah mereka memilih Neptunus dan Pluto. Karena wanita mana pun pasti akan mencari laki-laki yang akan dijadikannya teman.

Tapi saya tidak sependapat dengan mereka karena saya lebih memilih VENUS. Bahkan sampai saat ini, tidak terlintas untuk menggantikan persahabatan saya dengan Venus sama Pluto, Neptunus apalagi Saturnus.  Mengapa? Ya, jawabannya “Jangan Melihat Buku dari Sampulnya Saja”. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Ada banyak wanita yang tertipu dengan tampilan luar laki-laki. Tidak banyak yang ingin mengenal mereka lebih jauh sebelum mengambil keputusan.

Ya, Neptunus tidak sebaik yang kita kira. Tanpa bermaksud mempermalukan sahabat sendiri, tapi saya harus mengatakan bila ia adalah tipikal pria yang memberi harapan kosong pada semua wanita. Tidak hanya satu atau dua wanita yang dikecewakannya dan tampaknya hal itu merupakan kesenangan tersendiri baginya. Terakhir kali yang saya ketahui, dia berpacaran dengan seorang bartender dengan status janda beranak dua. Namun demikian, saya masih berharap dengan keberadaan saya sebagai sahabat, Neptunus dapat berubah lebih baik ke depannya.

Berbeda dengan Neptunus, Pluto yang juga berpenampilan segambar dengan Neptunus agak berbeda. Mungkin ia tidak menawarkan banyak janji kosong tapi tampaknya dia perlu banyak belajar untuk menghargai orang lain. Apalagi Saturnus, sudah tidak ada kata yang saya miliki untuk menjelaskan kepribadiannya. Tapi saya bangga bisa mengenal mereka, setidaknya saya mendapat banyak pelajaran berharga dalam menilai orang lain yang dapat saya bagikan buat teman-teman sekalian. Terakhir VENUS, dia adalah pria yang luar biasa di mata saya. Sampai detik ini, saya tidak punya alasan untuk tidak mengagumi dia. Dia adalah pribadi yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya.
Dibalik wajah sangarnya, dia adalah pria yang super duper lembut dan penyayang. Tidak hanya orang dewasa, hampir seluruh anak-anak kecil di sekelilingnya begitu menyenanginya. Bagaimana tidak? Dia selalu menemukan banyak cara agar orang lain tersenyum ketika di sisinya. Dalam sejuta talenta yang Tuhan titipkan tidak menjadikannya sombong dan merasa dapat mengatasi semua masalah sendirian. Sikapnya yang selalu memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengembang kemampuan dan berlaku sebagai mentornya yang baik, barang kali menjadi satu alasan terkuat yang dimiliki banyak orang untuk menyenanginya.

Satu hal yang paling penting, dia adalah satu diantara sejuta pria yang begitu mencintai ibunya. Segala hal dinomorduakan bila sudah berbicara tentang ibu. Lantas, apalagi alasan orang lain untuk tidak menyenanginya? Sungguh, saya sangat terinspirasi dengan pribadi Venus. Semoga suatu hari nanti saya bisa belajar menjadi yang baik seperti Venus. Dan menjadi pribadi yang menginspirasi banyak orang. Bukan hanya laki-laki, banyak perempuan juga melakukan hal yang sama. Banyak pula laki-laki yang tertipu dengan paras cantik dan tubuh molek perempuan. Namun kembali lagi pada prinsip hidup masing-masing orang. Satu hal yang pasti “Orang Yang Baik Akan Menemukan dan Mendapat Orang Yang Baik Pula”. Laki-laki dan perempuan yang baik tidak akan jatuh pada pelukan orang yang salah.

Percaya atau tidak, seiring berjalannya waktu akan terjawab dengan sendirinya. Sekian yang saya dapat bagikan pada artikel kali ini. Lain waktu, saya akan kembali dengan artikel-artikel lainnya.

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan!

Salam manis!




Maria Elly Oktalina Munthe

Minggu, 05 Oktober 2014

Bilamanakah Kita Akan Tua?

Salam sejahtera!

Luar biasa! Ada satu suka cita yang tidak dapat saya defenisikan ketika saya masih memiliki kesempatan untuk berbagi lagi di blog ini. Setelah sekian lama 'absen', akhirnya saya dapat mengatur kembali waktu saya untuk meneruskan postingan di blog ini. Kali ini saya benar-benar tergerak pada satu sosok yang setiap minggu sangat menyita perhatian saya. Lelaki setengah baya yang bertubuh kurus, berambut putih sebahu yang selalu tampak bersemangat. Inisialnya 'HS', setiap kali saya bertemu beliau, tidak sekalipun saya melihat wajahnya tampak susah, tampak murung atau tidak bersemangat. Saya sering mendengar beberapa orang berkomentar, "Pak HS ini seperti tidak ada masalah. Sekilas dia benar-benar menikmati hidupnya."

Sekilas info, beberapa tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya selalu berpikir "Apa yang akan terjadi pada saya bilamana saya sudah tua nanti?" Sejenak lagi hati saya kembali bertanya, "Akankah saya menikmati apa yang dapat saya nikmati ketika saya masih muda?" Singkatnya, saya begitu takut untuk tumbuh dan menjadi tua. Setiap hari selalu dibayang-bayangi ketakutan yang tampaknya belum tentu akan menjadi nyata. Nah, ketika saya melihat lelaki setengah baya itu, saya semakin mengerti apa yang selama ini belum pernah saya mengerti.

Lelaki itu sudah terkenal di Gereja tempat saya selalu beribadah. Ketika mengenalnya lebih jauh, setiap orang yang mengenalnya seakan baru saja membuka mata karena memang apa yang ada jauh berbeda dengan apa yang dilihat mata. Ia yang selalu terlihat tidak punya masalah, ternyata punya segudang masalah yang sesungguhnya nyata bagi orang-orang yang merasanya nyata. Beberapa tahun lalu, ia menikah dengan seorang perempuan yang cukup jauh lebih muda dengannnya. Mereka berkenalan di sebuah klub malam, sebagai seorang tamu dan seorang pelayan tamu. Ups, tidak seburuk yang anda kira, mereka memutuskan menikah saat keduanya sudah sama-sama bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.

Mereka melalui masa-masa pernikahan mereka dengan begitu terlihat sempurna. Bahkan ketika Pak HS beberapa kali operasi mata, ia merawatnya dengan penuh cinta. Namun tahun demi tahun berlalu, sesuatu yang tertutup indah dalam senyuman seorang wanita seakan terbongkar bagai belatung dari pusara. Wanita itu melarikan diri dengan meninggalkan hutang puluhan juta pada Pak HS, entah untuk apa uang itu digunakannya. Logikanya, bagaimana mungkin seorang lelaki setengah baya yang sudah pensiun dapat duduk-duduk manis dan tidak kehilangan kebahagiaannya ketika seorang istri yang dicintainya meninggalkannya, bahkan meninggalkan hutang puluhan juta. Tetapi percaya atau tidak, dia dapat melewatinya. Ia melakukan apa saja yang dapat ia lakukan, ia berdoa dan bekerja di masa-masa senjanya. Tidak seorang pun menyangka, ia akan menjadi seorang yang masih bersemangat, bersuka cita dan tidak pernah kehilangan dirinya sendiri.

Beberapa bulan yang lalu, ia memberanikan diri untuk berbagi cerita tentang pahit manisnya kehidupan yang dilewatinya. Dengan penuh semangat, ia mampu melunasi hutang-hutang istrinya, tubuhnya yang sempat sakit-sakitan karena faktor usia pun kini justru sudah semakin sehat. Tepuk tangan riuh mengakhiri ceritanya. Lelaki itu menjadi rentetan baru pada beberapa orang yang memberi inspirasi dalam hidup saya.

Ya, kini saya mengerti, "Mengapa kita harus takut untuk terlihat tua?", "Mengapa pula kita harus merasa takut tidak dapat menikmati hidup di masa tua?" Tubuh memang akan tumbuh dan menjadi tua. Keriput akan tampak menghiasi wajah yang semula cantik, tampan dan sempurna. Tapi benarkah dengan bertambahnya usia, bertambahnya keriput di wajah, lantas kita akan menjadi tua? Tua itu adalah pilihan, pilihan dimana kita tidak mau menjadi seperti orang-orang yang terlihat tua. Karena tua bukan sekedar bertambahnya usia, tapi ketika kita tidak bisa bersemangat, memilih untuk murung, memikirkan seluruh masalah kita dan kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya meski usia kita masih sangat muda. Sekalipun waktu berlalu bersama bertambahnya usia, hilangnya wajah yang sempurna, namun kita belum tentu tua. Saat semangat kita masih tetap terjaga, tetap tersenyum, tetap bersuka cita, tetap berdoa dan tidak pernah putus asa. Maka pada saat itulah kita masih menikmati masa MUDA sekalipun usia kita sudah TUA!

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan!


Salam manis,


Maria Elly Munthe