Hallo!!
Apa kabar? Semoga baik ya. Saya dan
orang tua saya di sini juga baik-baik saja. Senang sekali rasanya, saya bisa
kembali berbagi pahit manisnya kehidupan melalui blog ini. Seperti sebelumnya,
saya mau berterima kasih sekali bagi teman-teman yang setia membaca blog saya.
Saya akan senang sekali bila ada teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan
kritik dan saran pada kotak komentar di bawah artikel ini.
Nah, langsung saja pada topik pembicaraan
kita ya. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya dalam menilai orang lain. Sebagai
makhluk sosial, sudah pasti dalam kegiatan sehari-hari kita akan bertemu dengan
berbagai jenis orang. Maka kita juga pasti memiliki berbagai pendapat pada
setiap orang yang kita temui, bukan? Setelah mengamati beberapa orang yang saya
temui, maka saya menyimpulkan ada empat kategori orang.
Dua tahun belakangan ini, saya bertemu dengan
beberapa orang yang kini terbilang cukup untuk saya sebut sebagai seorang sahabat.
Orang pertama, sebut saja namanya Venus, dia adalah pria berbadan besar,
berkulit hitam, bersuara besar, berwajah seram dan bersikap santai. Bahkan
beberapa orang yang baru saja mengenalnya sempat berkomentar, “Astaga, Maria.
Aku gak nyangka, kamu bisa berteman dengan preman seperti ini.” Mungkin setiap
orang yang bertemu dia juga akan berkomentar yang sama.
Beberapa bulan kemudian, saya juga bertemu dengan
seseorang, sebut saja namanya Pluto. Ia jauh berbeda dengan Venus, berwajah
baby face, tampan, berbadan ideal dan berpenampilan layaknya pengusaha kaya
meski kenyataannya Venus lebih beruntung dalam hal bisnis. Selanjutnya, saya
bertemu dengan Neptunus, pada awal pertemuan saya merasa dia adalah orang
paling baik yang pernah saya temui. Selain berwajah tampan, bertubuh ideal, ia
juga bertutur kata sopan, bersikap yang super duper membuat orang lain akan
berpendapat sama dengan saya bahwa dia adalah malaikat yang turun dari surga. Beberapa
kali dia juga membantu saya menemukan solusi untuk masalah-masalah saya.
Kemudian beberapa waktu lalu, saya juga bertemu
dengan Saturnus. Yang kali ini, saya bahkan segan untuk menyebutnya sahabat.
Dengan penampilan urakan, tanpa sopan santun dan banyak hal yang menyebalkan. Suatu
kali, saya bertanya pada beberapa orang gadis seusia saya, pria mana sih yang
ingin dijadikannya sahabat? Hampir semua menyebutkan Neptunus dan Pluto tanpa
sedikitpun terlintas untuk mengajukan barang satu pertanyaan saja pada saya. Apa
yang salah? Tidak ada. Tidak salah mereka memilih Neptunus dan Pluto. Karena
wanita mana pun pasti akan mencari laki-laki yang akan dijadikannya teman.
Tapi saya tidak sependapat dengan mereka karena saya
lebih memilih VENUS. Bahkan sampai saat ini, tidak terlintas untuk menggantikan
persahabatan saya dengan Venus sama Pluto, Neptunus apalagi Saturnus. Mengapa? Ya, jawabannya “Jangan Melihat Buku
dari Sampulnya Saja”. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan
luarnya saja. Ada banyak wanita yang tertipu dengan tampilan luar laki-laki.
Tidak banyak yang ingin mengenal mereka lebih jauh sebelum mengambil keputusan.
Ya, Neptunus tidak sebaik yang kita kira. Tanpa
bermaksud mempermalukan sahabat sendiri, tapi saya harus mengatakan bila ia
adalah tipikal pria yang memberi harapan kosong pada semua wanita. Tidak hanya
satu atau dua wanita yang dikecewakannya dan tampaknya hal itu merupakan
kesenangan tersendiri baginya. Terakhir kali yang saya ketahui, dia berpacaran
dengan seorang bartender dengan status janda beranak dua. Namun demikian, saya
masih berharap dengan keberadaan saya sebagai sahabat, Neptunus dapat berubah
lebih baik ke depannya.
Berbeda dengan Neptunus, Pluto yang juga
berpenampilan segambar dengan Neptunus agak berbeda. Mungkin ia tidak
menawarkan banyak janji kosong tapi tampaknya dia perlu banyak belajar untuk menghargai
orang lain. Apalagi Saturnus, sudah tidak ada kata yang saya miliki untuk
menjelaskan kepribadiannya. Tapi saya bangga bisa mengenal mereka, setidaknya
saya mendapat banyak pelajaran berharga dalam menilai orang lain yang dapat
saya bagikan buat teman-teman sekalian. Terakhir VENUS, dia adalah pria yang
luar biasa di mata saya. Sampai detik ini, saya tidak punya alasan untuk tidak
mengagumi dia. Dia adalah pribadi yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap
langkah hidupnya.
Dibalik wajah sangarnya, dia adalah pria yang super
duper lembut dan penyayang. Tidak hanya orang dewasa, hampir seluruh anak-anak
kecil di sekelilingnya begitu menyenanginya. Bagaimana tidak? Dia selalu menemukan
banyak cara agar orang lain tersenyum ketika di sisinya. Dalam sejuta talenta
yang Tuhan titipkan tidak menjadikannya sombong dan merasa dapat mengatasi
semua masalah sendirian. Sikapnya yang selalu memberi kesempatan bagi orang
lain untuk mengembang kemampuan dan berlaku sebagai mentornya yang baik, barang
kali menjadi satu alasan terkuat yang dimiliki banyak orang untuk
menyenanginya.
Satu hal yang paling penting, dia adalah satu
diantara sejuta pria yang begitu mencintai ibunya. Segala hal dinomorduakan
bila sudah berbicara tentang ibu. Lantas, apalagi alasan orang lain untuk tidak
menyenanginya? Sungguh, saya sangat terinspirasi dengan pribadi Venus. Semoga suatu
hari nanti saya bisa belajar menjadi yang baik seperti Venus. Dan menjadi pribadi
yang menginspirasi banyak orang. Bukan hanya laki-laki, banyak perempuan juga
melakukan hal yang sama. Banyak pula laki-laki yang tertipu dengan paras cantik
dan tubuh molek perempuan. Namun kembali lagi pada prinsip hidup masing-masing
orang. Satu hal yang pasti “Orang Yang Baik Akan Menemukan dan Mendapat Orang
Yang Baik Pula”. Laki-laki dan perempuan yang baik tidak akan jatuh pada
pelukan orang yang salah.
Percaya atau tidak, seiring berjalannya waktu akan
terjawab dengan sendirinya. Sekian yang saya dapat bagikan pada artikel kali
ini. Lain waktu, saya akan kembali dengan artikel-artikel lainnya.
Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan
sebagaimana tujuan aku diciptakan!
Salam manis!
Maria Elly Oktalina Munthe












