Minggu, 26 Oktober 2014

Jangan Melihat Buku dari Sampulnya Saja



            Hallo!!
            
            Apa kabar? Semoga baik ya. Saya dan orang tua saya di sini juga baik-baik saja. Senang sekali rasanya, saya bisa kembali berbagi pahit manisnya kehidupan melalui blog ini. Seperti sebelumnya, saya mau berterima kasih sekali bagi teman-teman yang setia membaca blog saya. Saya akan senang sekali bila ada teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan kritik dan saran pada kotak komentar di bawah artikel ini.

           Nah, langsung saja pada topik pembicaraan kita ya. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya dalam menilai orang lain. Sebagai makhluk sosial, sudah pasti dalam kegiatan sehari-hari kita akan bertemu dengan berbagai jenis orang. Maka kita juga pasti memiliki berbagai pendapat pada setiap orang yang kita temui, bukan? Setelah mengamati beberapa orang yang saya temui, maka saya menyimpulkan ada empat kategori orang.

         Dua tahun belakangan ini, saya bertemu dengan beberapa orang yang kini terbilang cukup untuk saya sebut sebagai seorang sahabat. Orang pertama, sebut saja namanya Venus, dia adalah pria berbadan besar, berkulit hitam, bersuara besar, berwajah seram dan bersikap santai. Bahkan beberapa orang yang baru saja mengenalnya sempat berkomentar, “Astaga, Maria. Aku gak nyangka, kamu bisa berteman dengan preman seperti ini.” Mungkin setiap orang yang bertemu dia juga akan berkomentar yang sama.

Beberapa bulan kemudian, saya juga bertemu dengan seseorang, sebut saja namanya Pluto. Ia jauh berbeda dengan Venus, berwajah baby face, tampan, berbadan ideal dan berpenampilan layaknya pengusaha kaya meski kenyataannya Venus lebih beruntung dalam hal bisnis. Selanjutnya, saya bertemu dengan Neptunus, pada awal pertemuan saya merasa dia adalah orang paling baik yang pernah saya temui. Selain berwajah tampan, bertubuh ideal, ia juga bertutur kata sopan, bersikap yang super duper membuat orang lain akan berpendapat sama dengan saya bahwa dia adalah malaikat yang turun dari surga. Beberapa kali dia juga membantu saya menemukan solusi untuk masalah-masalah saya.

Kemudian beberapa waktu lalu, saya juga bertemu dengan Saturnus. Yang kali ini, saya bahkan segan untuk menyebutnya sahabat. Dengan penampilan urakan, tanpa sopan santun dan banyak hal yang menyebalkan. Suatu kali, saya bertanya pada beberapa orang gadis seusia saya, pria mana sih yang ingin dijadikannya sahabat? Hampir semua menyebutkan Neptunus dan Pluto tanpa sedikitpun terlintas untuk mengajukan barang satu pertanyaan saja pada saya. Apa yang salah? Tidak ada. Tidak salah mereka memilih Neptunus dan Pluto. Karena wanita mana pun pasti akan mencari laki-laki yang akan dijadikannya teman.

Tapi saya tidak sependapat dengan mereka karena saya lebih memilih VENUS. Bahkan sampai saat ini, tidak terlintas untuk menggantikan persahabatan saya dengan Venus sama Pluto, Neptunus apalagi Saturnus.  Mengapa? Ya, jawabannya “Jangan Melihat Buku dari Sampulnya Saja”. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Ada banyak wanita yang tertipu dengan tampilan luar laki-laki. Tidak banyak yang ingin mengenal mereka lebih jauh sebelum mengambil keputusan.

Ya, Neptunus tidak sebaik yang kita kira. Tanpa bermaksud mempermalukan sahabat sendiri, tapi saya harus mengatakan bila ia adalah tipikal pria yang memberi harapan kosong pada semua wanita. Tidak hanya satu atau dua wanita yang dikecewakannya dan tampaknya hal itu merupakan kesenangan tersendiri baginya. Terakhir kali yang saya ketahui, dia berpacaran dengan seorang bartender dengan status janda beranak dua. Namun demikian, saya masih berharap dengan keberadaan saya sebagai sahabat, Neptunus dapat berubah lebih baik ke depannya.

Berbeda dengan Neptunus, Pluto yang juga berpenampilan segambar dengan Neptunus agak berbeda. Mungkin ia tidak menawarkan banyak janji kosong tapi tampaknya dia perlu banyak belajar untuk menghargai orang lain. Apalagi Saturnus, sudah tidak ada kata yang saya miliki untuk menjelaskan kepribadiannya. Tapi saya bangga bisa mengenal mereka, setidaknya saya mendapat banyak pelajaran berharga dalam menilai orang lain yang dapat saya bagikan buat teman-teman sekalian. Terakhir VENUS, dia adalah pria yang luar biasa di mata saya. Sampai detik ini, saya tidak punya alasan untuk tidak mengagumi dia. Dia adalah pribadi yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya.
Dibalik wajah sangarnya, dia adalah pria yang super duper lembut dan penyayang. Tidak hanya orang dewasa, hampir seluruh anak-anak kecil di sekelilingnya begitu menyenanginya. Bagaimana tidak? Dia selalu menemukan banyak cara agar orang lain tersenyum ketika di sisinya. Dalam sejuta talenta yang Tuhan titipkan tidak menjadikannya sombong dan merasa dapat mengatasi semua masalah sendirian. Sikapnya yang selalu memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengembang kemampuan dan berlaku sebagai mentornya yang baik, barang kali menjadi satu alasan terkuat yang dimiliki banyak orang untuk menyenanginya.

Satu hal yang paling penting, dia adalah satu diantara sejuta pria yang begitu mencintai ibunya. Segala hal dinomorduakan bila sudah berbicara tentang ibu. Lantas, apalagi alasan orang lain untuk tidak menyenanginya? Sungguh, saya sangat terinspirasi dengan pribadi Venus. Semoga suatu hari nanti saya bisa belajar menjadi yang baik seperti Venus. Dan menjadi pribadi yang menginspirasi banyak orang. Bukan hanya laki-laki, banyak perempuan juga melakukan hal yang sama. Banyak pula laki-laki yang tertipu dengan paras cantik dan tubuh molek perempuan. Namun kembali lagi pada prinsip hidup masing-masing orang. Satu hal yang pasti “Orang Yang Baik Akan Menemukan dan Mendapat Orang Yang Baik Pula”. Laki-laki dan perempuan yang baik tidak akan jatuh pada pelukan orang yang salah.

Percaya atau tidak, seiring berjalannya waktu akan terjawab dengan sendirinya. Sekian yang saya dapat bagikan pada artikel kali ini. Lain waktu, saya akan kembali dengan artikel-artikel lainnya.

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan!

Salam manis!




Maria Elly Oktalina Munthe

Minggu, 05 Oktober 2014

Bilamanakah Kita Akan Tua?

Salam sejahtera!

Luar biasa! Ada satu suka cita yang tidak dapat saya defenisikan ketika saya masih memiliki kesempatan untuk berbagi lagi di blog ini. Setelah sekian lama 'absen', akhirnya saya dapat mengatur kembali waktu saya untuk meneruskan postingan di blog ini. Kali ini saya benar-benar tergerak pada satu sosok yang setiap minggu sangat menyita perhatian saya. Lelaki setengah baya yang bertubuh kurus, berambut putih sebahu yang selalu tampak bersemangat. Inisialnya 'HS', setiap kali saya bertemu beliau, tidak sekalipun saya melihat wajahnya tampak susah, tampak murung atau tidak bersemangat. Saya sering mendengar beberapa orang berkomentar, "Pak HS ini seperti tidak ada masalah. Sekilas dia benar-benar menikmati hidupnya."

Sekilas info, beberapa tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya selalu berpikir "Apa yang akan terjadi pada saya bilamana saya sudah tua nanti?" Sejenak lagi hati saya kembali bertanya, "Akankah saya menikmati apa yang dapat saya nikmati ketika saya masih muda?" Singkatnya, saya begitu takut untuk tumbuh dan menjadi tua. Setiap hari selalu dibayang-bayangi ketakutan yang tampaknya belum tentu akan menjadi nyata. Nah, ketika saya melihat lelaki setengah baya itu, saya semakin mengerti apa yang selama ini belum pernah saya mengerti.

Lelaki itu sudah terkenal di Gereja tempat saya selalu beribadah. Ketika mengenalnya lebih jauh, setiap orang yang mengenalnya seakan baru saja membuka mata karena memang apa yang ada jauh berbeda dengan apa yang dilihat mata. Ia yang selalu terlihat tidak punya masalah, ternyata punya segudang masalah yang sesungguhnya nyata bagi orang-orang yang merasanya nyata. Beberapa tahun lalu, ia menikah dengan seorang perempuan yang cukup jauh lebih muda dengannnya. Mereka berkenalan di sebuah klub malam, sebagai seorang tamu dan seorang pelayan tamu. Ups, tidak seburuk yang anda kira, mereka memutuskan menikah saat keduanya sudah sama-sama bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.

Mereka melalui masa-masa pernikahan mereka dengan begitu terlihat sempurna. Bahkan ketika Pak HS beberapa kali operasi mata, ia merawatnya dengan penuh cinta. Namun tahun demi tahun berlalu, sesuatu yang tertutup indah dalam senyuman seorang wanita seakan terbongkar bagai belatung dari pusara. Wanita itu melarikan diri dengan meninggalkan hutang puluhan juta pada Pak HS, entah untuk apa uang itu digunakannya. Logikanya, bagaimana mungkin seorang lelaki setengah baya yang sudah pensiun dapat duduk-duduk manis dan tidak kehilangan kebahagiaannya ketika seorang istri yang dicintainya meninggalkannya, bahkan meninggalkan hutang puluhan juta. Tetapi percaya atau tidak, dia dapat melewatinya. Ia melakukan apa saja yang dapat ia lakukan, ia berdoa dan bekerja di masa-masa senjanya. Tidak seorang pun menyangka, ia akan menjadi seorang yang masih bersemangat, bersuka cita dan tidak pernah kehilangan dirinya sendiri.

Beberapa bulan yang lalu, ia memberanikan diri untuk berbagi cerita tentang pahit manisnya kehidupan yang dilewatinya. Dengan penuh semangat, ia mampu melunasi hutang-hutang istrinya, tubuhnya yang sempat sakit-sakitan karena faktor usia pun kini justru sudah semakin sehat. Tepuk tangan riuh mengakhiri ceritanya. Lelaki itu menjadi rentetan baru pada beberapa orang yang memberi inspirasi dalam hidup saya.

Ya, kini saya mengerti, "Mengapa kita harus takut untuk terlihat tua?", "Mengapa pula kita harus merasa takut tidak dapat menikmati hidup di masa tua?" Tubuh memang akan tumbuh dan menjadi tua. Keriput akan tampak menghiasi wajah yang semula cantik, tampan dan sempurna. Tapi benarkah dengan bertambahnya usia, bertambahnya keriput di wajah, lantas kita akan menjadi tua? Tua itu adalah pilihan, pilihan dimana kita tidak mau menjadi seperti orang-orang yang terlihat tua. Karena tua bukan sekedar bertambahnya usia, tapi ketika kita tidak bisa bersemangat, memilih untuk murung, memikirkan seluruh masalah kita dan kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya meski usia kita masih sangat muda. Sekalipun waktu berlalu bersama bertambahnya usia, hilangnya wajah yang sempurna, namun kita belum tentu tua. Saat semangat kita masih tetap terjaga, tetap tersenyum, tetap bersuka cita, tetap berdoa dan tidak pernah putus asa. Maka pada saat itulah kita masih menikmati masa MUDA sekalipun usia kita sudah TUA!

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan!


Salam manis,


Maria Elly Munthe

Rabu, 03 September 2014

Dan Cinta Sejati Takkan Pernah Mampu Terkhianati



Salam sejahtera!

 Apa kabar saudara/i? Semoga baik-baik saja ya. Saya dan orang tua saya di sini juga baik-baik saja. Senang sekali, saya masih memiliki kesempatan untuk berbagi isi hati saya di blog ini. Terima kasih sekali saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan impian saya untuk berbagi kasih melalui tulisan saya di blog ini. Tidak lupa, saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia mengunjungi dan membaca tulisan-tulisan saya.

Kali ini, saya seperti tergerak ingin sekali membahas tentang “Cinta Sejati”. Barang kali tidak banyak di antara kita yang menyukai sinetron. Namun saya harus mengakuinya bahwa saya adalah salah seorang di dunia ini yang cukup menyukai sinetron. Hanya saja belakangan ini saya merasa sedikit kecewa dengan kisah-kisah yang dituturkan melalui sinetron-sinetron di tanah air. Tidak jarang sinetron kita hanya membahas tentang “Cinta Sejati” yang terkhianati. Ada yang setuju dengan saya? Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar buat saya, apakah benar sesuatu yang disebut dengan “Cinta Sejati” itu kini sudah dijadikan permainan? Dengan mudahnya pasangan akan mendustai janji sucinya hanya untuk kesenangan sesaat saja. Apakah ini masih bisa disebut cinta sejati?

Suatu kali saya membuka akun instagram saya setelah sekian lama tidak sempat menghampirinya. Foto pertama yang saya lihat adalah foto salah seorang teman saya beserta istrinya digabungkan dalam sebuah bingkai menggunakan instaframe (bagi yang menggunakan instagram pasti tahu), di sudut kanan atas terlihat seorang bayi mungil sudah pucat pasi. Sedangkan disudut kanan bawah memori ketika beberapa hari yang lalu mereka menantikan kelahiran bayi mungil itu di ruang operasi. Dan yang paling menyedihkan di sudut kiri atas dan bawah adalah foto ambulans dan sebuah pemakaman mungil dengan salib bertuliskan nama bayi mungil itu. Terus terang saya kaget bukan main, ketika saya mulai membaca keterangan foto tersebut. Ternyata bayi yang mereka nanti-nantikan selama ini harus kembali meninggalkan mereka untuk selamanya.

Entah apa yang menjadi penyebab bayi itu meninggal dunia, tapi yang saya ketahui bahwa ia hanya bertahan hidup sekitar selama 6 hari saja. Saya merasa itu bukan yang terpenting, yang terpenting buat saya adalah keterangan foto itu. Pada keterangan foto itu, teman saya menuliskan kalimat-kalimat kira-kira seperti ini :

“Dear God, terima kasih sudah memberikan kami mujizat yang luar biasa ini. Kami memang sangat menyayangi bayi kami, tapi kami lebih tahu bahwa Engkau lebih mengerti bagaimana cara menyayanginya. Dan yang pasti Engkau menyayanginya jauh lebih baik dari pada kami. Kami percaya, ini sudah yang terbaik yang dari pada-MU.
Dear My Wife, i love you and always be. Terima kasih sudah melalui hari-hari pernikahan kita dengan sempurna. Saling membangun, saling menguatkan, saling mengasihi, dan saling menghibur satu sama lain. Aku percaya, kita mampu melewati masa-masa sulit ini. Tetaplah kuat dan jangan goyah, Tuhan sudah mempersiapkan bayi yang baru buat kita.
Dear baby, satu hal yang kamu perlu tahu bahwa aku dan ibumu mengasihmu sejak kau tumbuh dalam rahim ibumu. Bahkan kami sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa meski kamu belum terlahir ke dunia. Kehadiranmu dan kepergiaanmu juga mengajarkan aku dan ibumu untuk lebih mencintai satu sama lain melebihi dari sebelumnya yang pernah kami rasakan. Terima kasih karena kamu sudah mengajarkan ayah dan ibumu ini banyak hal. Meski kami tak memiliki banyak waktu untuk mengurusmu, menuangkan cinta kasih kami, dan melihatmu tumbuh dan berkembang. Menikmati masa-masa lucu dengan bertambahnya sedikit demi sedikit kepintaranmu. Tenang, ayah akan menjaga ibumu dengan baik di sini. Sampai bertemu di Surga ya, Nak.”
Air mataku tak mampu berhenti mengalir ketika membaca kata demi kata yang ditulisnya itu. Masih jelas di mataku, betapa bahagianya wanita cantik yang berusia sekitar 30 tahunan itu ketika ia tahu bahwa dalam rahimnya sudah tumbuh janin kecil mungil, buah cinta dirinya dan suami. Apalagi ia sudah menantikan itu lebih dari 6 tahun pernikahan mereka. Entah sudah ke berapa ratus dokter mereka mencoba berkonsultasi, hanya untuk mendapatkan gadis mungil di dalam rahimnya itu.

Hatiku jauh lebih tersentuh ketika temanku, suaminya, sama sekali tidak mengucapkan satu kata kekecewaan bahkan justru mengucapkan kalimat yang sungguh luar biasa. Ia tidak menyalahkan siapapun, terutama istrinya dan Tuhan. Pada saat membaca tulisan itu, ternyata saya tidak sendirian. Ada seorang wanita muda seusia saya yang turut membaca dari balik punggung saya. Lantas ia hanya berkomentar, “Halah, sekarang aja dia bisa bilang begitu! Besok, lusa, bulan depan? Apa dia masih bisa mencintai istrinya? Bodoh kalo dia masih bisa. Kenapa dia tidak cari saja wanita yang lebih muda, lebih cantik dan lebih sehat, yang bisa sesegera mungkin memberinya seorang anak.”

Jujur, saya kaget luar biasa mendengar ucapan wanita muda itu. Satu sisi mungkin saya percaya bahwa teman saya bukan tipikal lelaki seperti yang ia katakan, tapi di sisi lain rasanya apa yang dia katakan itu seakan lebih rasional dari pada harus setia pada wanita yang tampak secara fisik terlalu sulit untuk memberinya seorang anak. Saat itu saya masih belum punya nyali untuk menjawab sepatah katapun, bukan berarti saya membenarkannya atau menyerah pada pikiran yang terlihat rasional miliknya. Namun saya masih berusaha mencari-cari bukti bahwa apa yang dikatakannya itu tidak seharusnya dibenarkan.

Bulan demi bulan berlalu, hal yang sama masih saja tetap sama. Saya masih melihat kesetiaan dan cinta kasih mesra di antara mereka berdua. Justru kini mereka lebih instensif untuk meluangkan waktu satu sama lain untuk berlibur keluar kota di sela-sela kesibukan pekerjaan sehari-hari.  Hari-hari biasa memang mereka sungguh kekurangan waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Sedikitpun mereka tidak membiarkan pikiran mereka susah untuk meratapi kesedihan yang pernah melanda keluarga kecil mereka. Atau mungkin membiarkan waktu-waktu mereka terbuang sia-sia untuk mencari tahu siapa yang salah atau apa yang seharusnya mereka lakukan waktu itu agar tidak kehilangan bayi mereka.

Mereka sungguh menikmati apa yang Tuhan berikan dalam hidup mereka. Teman saya itu sama sekali tidak tampak mencari wanita lain untuk memberikan keturunan. Bahkan ia pernah berkata bahwa cinta mereka bukan semata-mata hanya untuk memiliki keturunan saja. Saya mulai menunjukkan pada wanita muda yang pernah mencela mereka waktu itu, meski tak sepenuhnya ia bisa sependapat dengan saya. Positifnya, kejadian ini justru memberi saya pelajaran bahwa tidak semua laki-laki hanya menuntut sesuatu dari kita. “Cinta Sejati” itu masih ada. Saya yang semula merasa terlalu sulit untuk menerima orang lain untuk lebih dekat saya menjadi pribadi yang ingin mengenal orang lain jauh lebih dekat. Semakin hari rasa takut dan khawatir yang selama ini masih mengikuti saya mulai pudar dan hilang. Pasti, masih ada laki-laki di luar sana yang akan mencintai saya dengan cinta yang sempurna. Laki-laki yang memang secara khusus diciptakan Tuhan untuk saya.

Begitu juga dengan anda, apakah anda merasa bahwa tidak ada lagi pria yang dapat mencintai anda dengan cinta yang sejati? Atau anda adalah pria yang merasa tidak bisa mencintai wanita dengan cinta sejati? Anda merasa bahwa cinta yang anda punya masih sama dengan orang kebanyakan? Ini saatnya kita untuk belajar menumbuhkan cinta sejati itu dalam diri kita. Jangan mencintai orang lain hanya karena kebutuhan! Jangan mencintai orang lain hanya karena tuntutan! Jangan mencintai orang lain hanya karena kebiasaan! Tapi biarlah kita mencintai orang lain karena cinta itu memang berasal dari Tuhan. Sehingga kita bisa menerima orang lain apa adanya, tidak menuntut dia menjadi seperti apa yang kita inginkan. Atau mencari orang lain ketika ia tidak bisa menjadi seperti apa yang kita harapkan.

Bila dalam keadaan kecil saja kita tidak bisa setia dan mencintai pasangan, bagaimana bila kita sudah menjadi orang besar? Pernikahan itu bukan permainan yang bisa diresmikan hari ini dan diputuskan esok hari hanya karena ketidakcocokan, perbedaan pendapat, pertengkaran-pertengkaran yang kita hadapi dalam bahtera rumah tangga. Seseorang wanita setengah baya pernah berkata pada saya, “Jangan pernah mengharapkan pernikahan yang sempurna atau mendapat pasangan yang sempurna. Tapi belajarlah untuk menjadi pasangan yang sempurna, mencintai pasanganmu dengan sempurna dan mengajarkan dia untuk mencintaimu dengan cintanya yang sempurna!” Ya, dengan kata lain cinta sejati itu milik semua orang. PR nya, apakah kita mau menjadi salah satu dari mereka yang memilikinya? Apakah kita mau mencari pasangan yang setujuan memilikinya? Dan tetaplah bertanya pada Tuhan pada setiap langkah yang kita ambil.

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan.

Salam manis!


 
Maria Elly Oktalina Munthe

Kamis, 21 Agustus 2014

Siapakah Yang Mampu Mengubah Indonesia? (bagian 2)


Salam sejahtera!

Sebelum memulai artikel saya yang kali ini, saya ingin menyempatkan diri untuk berterima kasih kepada para pembaca yang sudah sudi membaca artikel ini dan artikel sebelumnya. Sesuai dengan judulnya, “Siapakah Yang Mampu Mengubah Indonesia?” (Bagian 2) sudah tentu ada bagian 1 nya. Kali ini, jemari saya tidak sabar ingin mengungkapkan apa yang sudah diucapkan oleh lubuk jiwa saya untuk mengusung Indonesia menuju generasi-generasi muda yang lebih baik. Dengan pertanyaan yang sama, siapa yang mampu mengubah Indonesia? Indonesia dapat berubah menjadi lebih baik tidak cukup dengan perbaikan sumber daya manusia pada masa yang akan datang. Lantas bagaimana nasib masyarakat miskin yang kini masih bergelimpangan di pinggir-pinggir jalan, di sudut-sudut kota?

 Suatu kali saya terlibat perbincangan dengan beberapa orang tentang Indonesia yang lebih baik. Tidak jarang diantara kami hanya bisa menghujat pemerintah, terutama bagi penguasa yang sudah menyalahgunakan kekuasaan mereka. Ingin sekali rasanya saya bertanya, “Apakah hanya mereka yang salah?” Namun waktu itu belum saatnya saya untuk bertanya, karena saya belum menemukan jawabannya. Dalam setiap detik hembusan nafas saya, selalu mencari-cari jawabannya. Hingga akhirnya suatu hari saya melihat acara infotainment yang meliput kelimpahan harta dan gaya hidup mewah ala selebriti dan kaum sosialita. Angan-angan saya lantas kembali pada pemandangan ibu kota yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak mampu melawan arus kerasnya kehidupan ekonomi.

Bayangkan bila sebuah tas milik salah satu selebriti-selebriti itu dijual, mungkin bisa saja membangun sebuah rumah layak huni bagi saudara-saudara kita yang kini masih tidur di emperan toko. Sedangkan mereka membeli barang-barang mewah itu tampaknya seperti hanya membeli kacang goreng saja, bukan hanya satu bahkan mereka bisa membeli barang-barang itu hingga satu kamar penuh. Bukan sebagai keperluan yang harus dipenuhi namun hanya sekedar kepuasan lahiriah semata. Tidak salah memang bila kita membeli barang-barang mewah sebanyak-banyaknya selagi kita mampu. Tapi akan lebih baik bila kita tidak harus mengharapkan pemerintah semata untuk membangun Indonesia lebih baik. Mulai dari diri kita sendiri, mungkin kita memang tidak bisa memberikan bantuan sama seperti para selebriti yang menjual satu tasnya untuk sebuah rumah layak huni.

Namun akan lebih berharga ketika beberapa orang diantara kita bersatu untuk mengumpulkan sedikitnya uang untuk membantu adik-adik kita yang belum mampu sekolah. Ataupun barang kali orang tua mereka masih terlalu berat untuk membiayai sekolah mereka. Barang membelikan mereka peralatan tulis menulis, tas sekolah, sepatu, seragam dan hal-hal kecil lainnya. Saya tidak bisa membayangkan betapa mereka akan bahagia menerima sesuatu yang masih terlihat kecil di mata kita. Bahkan bisa saja uang itu berasal dari sisa-sisa uang jajan kita per-bulan.
 
Sekitar setahun yang lalu, saya tergabung dengan sebuah kegerakan anak muda yang kami beri nama “Frontline Generation” pernah melakukan hal yang sama. Kami berdiri dan berjalan dalam berkat-berkat Tuhan yang kami punya. Untuk menambahi uang yang terkumpul dari kantong kami masing-masing, kami rela mengadakan bazar amal dengan menjual makanan, minuman dan mengamen. Hasilnya, kami membelikan alat-alat tulis seperti buku, pena, pensil, penghapus, penggaris, sampul buku dan perautnya. Lantas, kami bergerak membungkusnya menjadi beberapa paket untuk dibagikan kepada beberapa anak yang kami rasa pantas untuk menerima segelintir keringat yang kami kuras untuk mereka.

Mungkin terlihat sepele tapi saya sangat terharu ketika seorang ibu menangis sambil memeluk tubuh saya. Memang bukan cuma saya yang dipeluknya, ia rela memeluk satu per satu anggota kami hanya untuk mengucapkan betapa besar rasa terima kasih ibu tersebut. Ya, ia memang sudah memiliki apapun untuk membeli peralatan anak sekolah, Puji Tuhan, Tuhan memakai kami untuk menyalurkan berkat kepada beliau. Rasanya semangat untuk berbagi kasih kian membara di hati setiap kami, biar bukan hanya kali ini tapi akan berulang kali ada tangis suka cita di wajah saudara-saudari kita yang membutuhkannya.

Selain itu, saya juga pernah melihat dokumentasi kegiatan berbagi kasih pada akun facebook teman saya. Tampak jelas di gambar itu, mereka tengah berbagi nasi kotak dan kain sebagai selimut bagi tuna wisma di seluruh kota Bandung. Dalam keterangan dokumentasi itu, saya masih mengingatnya dengan jelas bahwa ia membubuhkan sebuah kalimat yang berkata, “Apabila Aku (Tuhan-red) lapar maka engkau (kita-red) yang akan memberi Aku makan, apabila Aku haus maka engkau yang akan memberi Aku minum, dan apabila Aku tidak berpakaian maka engkau yang akan memberi Aku pakaian.” Luar biasa! Sebegitulah Tuhan menginginkan kita untuk berbagi rezeki-rezeki yang Ia berikan kepada kita.

Coba bayangkan bila seluruh anak muda Indonesia tergerak untuk memulai satu gerakan yang sama untuk membangun Indonesia yang lebih baik! Mungkin tidak perlu lagi ada air mata yang terurai hanya untuk sesuap nasi, segelas air, ongkos sekolah, atau bahkan anak-anak kecil yang merintih meminta susu pada ibunya. Puluhan tahun ke depan tidak ada lagi anak putus sekolah, tidak ada lagi tuna wisma, tidak ada masyarakat miskin, dan tidak ada lagi tindak kriminal. Maka bukan hanya Tuhan yang bangga pada kita, tapi kita mampu menjadi negara yang berwibawa, maju, dan memiliki harga diri di mata Internasional. Tidak harus menuntut pemerintah melakukan ini dan itu atau menghakimi mereka ketika mereka berbuat curang. Lantas, mengapa kita tidak memulainya dari sekarang? Kita, ya kita, kita sebagai generasi muda menjadi satu fondasi kokoh yang mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana suatu hari nanti aku kan dikenang.
Salam manis,

Maria Elly Munthe



Minggu, 10 Agustus 2014

Sedetik Pun Terasa Begitu Berharga!

Salam sejahtera!

Senang sekali saya masih memiliki kesempatan untuk menulis posting-an terbaru di blog pribadi saya ini. Rasanya ada sedikit beban yang berkurang dari lubuk hati saya ketika berhasil menggoreskan sebuah kisah yang dapat berarti buat teman-teman pembaca.

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya sekitar seminggu yang lalu. Tepatnya hari Jumat, 1 Agustus 2014 pukul 23.30 waktu Indonesia bagian barat, saya sedang menikmati waktu-waktu bersama dengan kedua orang tua saya. Sudah seperti biasanya, saya dan kedua orang tua saya sering tidur cukup larut karena beberapa kegiatan yang memang harus kami selesaikan pada malam hari. Salah satunya adalah menyelesaikan Tugas Akhir studi perguruan tinggi saya. Namun kali ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, saya, mama dan papa terlihat begitu bahagia. Sebelum saya membuat segelas teh manis untuk papa saya, saya meneguk sedikit air minum tiba-tiba rasanya air itu tidak dapat masuk ke dalam tenggorokan saya. Beberapa detik kemudian air itu terasa mengalir masuk hingga ke ulu hati saya. Entah apa yang terjadi, saya merasakan sakit yang luar biasa mulai dari rongga leher hingga rongga perut saya. Dalam hitungan detik pula, saya terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Tubuh saya menghatam meja osin yang tadinya dihuni oleh laptop, gelas minum mama saya dan beberapa barang-barang kecil. Tentu saja tubuh saya yang cukup besar ini berhasil menghamburkan semua benda-benda itu ke lantai. Bunyi keras yang dihasilkan benda itu bagaikan menyambar jiwa mama dan papa saya. Ada apa? Barang kali pertanyaan itulah yang terlintas dalam benak mereka. Menurut cerita mama, mata saya masih melotot ketika tubuh saya sudah terbaring lemah tak berdaya dan kaki kaku. Namun mama saya hanya bisa menangis sambil menyebut nama Tuhan, ia spontan mengusap-usap kepala dan wajah saya sambil berdoa. Sedangkan papa saya sudah sangat kalut sembari memugut laptop yang sudah terpelanting ke lantai. Ia mengambilkan segelas air untuk dibasuhkan ke wajah saya.

Dalam hitungan menit, akhirnya saya sadar juga. Saya bingung, mengapa mama menangis? Mengapa papa sudah kalut bukan main. Karena seingat saya, saya hanya merasakan sakit yang luar biasa dan berusaha untuk duduk saja. Mereka membasuh muka saya dengan air bersih, membaringkan saya sejenak, kemudian memberikan saya segelas susu, roti, dan membiarkan saya beristirahat. Sebelumnya, mama dan papa saya mengira bahwa saya kerasukan roh jahat namun ketika saya berkata "Aku tidak kerasukan Ma, Pa." barulah mereka percaya bahwa yang bangkit dalam tubuh saya adalah saya sendiri, bukan makhluk lain. Setelah sedikit lebih tenang, saya menjelaskan apa yang terjadi sebelum saya tidak menyadari mengapa saya bisa tergeletak tepat di dekat mama saya. Tidak ada yang tahu persis bagaimana saya bisa jatuh, karena memang mama dan papa saya tengah membelakangi posisi saya berdiri.

Mendengar cerita saya, mama saya menyimpulkan bahwa air yang saya minum barang kali tidak masuk pada jalur yang tepat. Entah berapa jumlahnya, tapi barang kali ada air yang masuk hingga ke paru-paru saya yang menyebabkan saya jatuh pingsan. Karena setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis THT, beliau berkata bahwa tidak ada gangguan pada saluran pernafasan, saluran makanan saya, dan kondisi tubuh saya juga stabil. Sedangkan kalau memang yang disebutkan mama saya itu benar, suatu mujizat saya bisa bangun kembali dan saat ini bisa menuliskan kisah ini di blog saya. Secara medis, paru-paru sama sekali tidak bisa dibahasi oleh air bahkan setetes pun tidak boleh. Ada banyak kasus yang sama, ketika air masuk ke dalam paru-paru seseorang maka orang itu bisa saja meninggal.

Hal ini rasanya begitu memukul jiwa saya, bayangkan bila saat itu adalah saat terakhir saya membuka mata dan harus kembali ke pangkuan Bapa. Apa yang sudah saya berikan bagi orang-orang yang saya sayangi? Apa yang orang lain dapat kenang dari diri saya? Belum ada sedikit pun hal-hal yang cukup berharga dari diri saya yang dapat saya berikan untuk orang-orang di sekitar saya. Sejak saat itu, saya rasanya terdorong untuk melakukan banyak hal yang berarti bagi sesama meski hal-hal itu hanya hal-hal kecil yang bahkan tidak mengurangi sedikit apapun dari diri saya. Saya termotivasi untuk lebih menggali potensi dalam diri saya agar suatu hari nanti ketika saya sudah tinggal nama maka masih ada hal-hal baik dan kenangan-kenangan indah yang saya tinggalkan, berguna untuk orang lain dan pantas untuk dikenang.

Demikian pula dengan sobat muda, sudahkah kita melakukan sesuatu yang dapat membuat kita dikenang kelak? Sudahkah kita menghabiskan waktu-waktu yang berharga dengan orang-orang terdekat kita? Sudahkah kita mampu mengampuni orang yang menyakiti kita? Sudahkah kita memiliki sedikit arti agar dunia mengerti bahwa kita ini berarti. Kita tidak tahu bilamana waktu kita habis, bahkan ketika kita sehat-sehat saja bukan berarti kita bisa santai dan berleha-leha. Waktu-waktu itu jahat, ia bagaikan singa lapar yang siap menerkam orang-orang yang menyia-nyiakannya. Lantas, akankah kita memberikan diri kita pada singa-singa lapar itu? Mari, jangan biarkan singa lapar itu menerkammu. Berikan sedikit saja arti, dan mulailah membangun arti agar dunia mengerti bahwa kita ini berarti. :)

Inilah aku dan sedikit arti yang kuberi, sebagaimana suatu hari nanti aku akan dikenang.

Salam semangat muda,



Maria Elly Munthe

Jumat, 01 Agustus 2014

Quality Time (Jeje and Bou in Action)

       Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Juli 2014, kakak laki-laki, istrinya dan anak perempuan mereka berlibur ke rumahku dimana aku dan orang tuaku tinggal saat ini. Ya, masa-masa seperti ini memang masa yang paling dinantikan oleh seorang kakek, nenek dan tante. Demikian pula yang kami rasakan, sejak sebulan sebelum kedatangan mereka pun kami sudah sibuk mempersiapkan penyambutan kedatangan mereka. Mulai dari bebersih rumah, mengganti dekorasi rumah hingga memasak makanan yang akan kami santap bersama ketika mereka sudah tiba di depan mata.


       Sebut saja quality time, hal itulah yang kami lewatkan bersama dalam istana kecil yang super sederhana dalam beberapa hari kehadiran mereka. Waktu-waktu yang berkualitas dengan kegiatan-kegiatan yang berkualitas pula. Ada banyak lucu yang tak dapat kulupakan ketika aku menunaikan tugasku sebagai seorang tante. Tidak kusangka, aku suka beranjak dewasa. Sekarang aku sudah memiliki seorang keponakan dan mungkin saja segera Tuhan juga akan mempertemukan aku dengan lelaki yang kehilangan tulang rusuknya dan tulang rusuk itu adalah aku. Hmm, lumayan menyenangkan meski kuakui kegiatan ini melelahkan. Aku belajar untuk merawat balita, hitung-hitung bekalku bila nanti aku sudah menjadi seorang ibu. Mulai dari mandi, makan, bermain, bahkan menemaninya sebelum tidur, meski aku tetap saja dibantu ibunya dan pengasuhnya.


       Hari pertama, kami berkunjung ke rumah salah satu teman. Ia begitu bahagia ketika masuk ruang berpendingin ruangan, menari riang sambil bernyanyi kesenangan. "Salam tantenya, dek."ujarku mengajarinya menyapa orang yang lebih tua. Ia masih tampak kesenangan, kemudian aku lagi-lagi berkata "Je, ada dedek. Salam dedeknya, sayang dedekny." Ia justru semakin tertawa ketika melihat wajah lucu adik kecil anak pemilik rumah. Namun wajahnya tiba-tiba berubah ketika melihat seorang lelaki dewasa datang dari dapur, dan mulai mendekatinya. Ia berteriak histeris ketakutan, entah apa yang dipikirkannya. Setiap bulan ada saja tingkah lakunya yang aneh.


         Satu-satunya pilihan hanya membawanya keluar dari rumah itu. Aku dan pengasuhnya mencoba menghilangkan rasa takutnya dengan bermain di halaman rumah itu. Tiba-tiba dia bergaya seperti ingin dipotret, tanganku segera meraih hand phone dan memulai edisi pemotretan ala Jeje dan Maria. Hal yang menggelikan juga terjadi ketika suatu malam kami bermain di ranjang mama. Tiba-tiba Jeje terdiam dan memanggilku, "Bou... Bou..."demikian Jeje kerap menyapaku layaknya anak berdarah Batak lainnya menyapa adik perempuan ayahnya. "Ada apa, Je?"tanyaku polos. "Sedikit.. Basah sedikit.."ujarnya tanpa ekspresi. "Iya, gak apa-apa. Basah sedikit."ujarku meski tak mengerti apa yang dimaksudnya basah sedikit. Aku menerka-nerka bahwa basah itu karena ia sudah keringatan setelah bermain.


        Ia melanjutkan bermain di ranjang, lantas bergerak-gerak sesuka hatinya. Sejurus kemudian dengan gemasnya aku mencium lengan kaki Jeje, tanpa sengaja aku memegang bagian bawah celana yang biasa terhimpit duduk. "Lho, kok basah?"tanyaku dalam hati. "Astaga! Kamu pipis ya, Je? Kok gak bilang sama bou? Hahahaha...."ujarku hanya bisa tertawa mengingat ucapannya yang super duper lucu saat berkata "Bou... Bou... Basah sedikit." Ternyata ia sedang mengadu bahwa ia sudah pipis di celana tapi takut dimarahi. Hah! Ini semua tidak bisa dilupakan! Benar-benar tidak bisa dilupakan! Hahahaha.......


        Hari terakhir, ia semangat bangun pagi karena ingin naik mobil untuk jalan-jalan keliling kota. Dan selesai mandi ia sesering mungkin memanggil kakeknya, "Oppung, Oppung mau ikut?"ujarnya dengan lidah cadel khas balita seumuran dirinya. Bahkan hingga siap beranjak pergi pun selalu berkata, "Oppung... Kenapa gak ikut?"dengan ekspresinya yang super duper polos. Kini dia sudah tiba di singgasana hatinya, tapi aku tidak yakin ia akan sebahagia sebelumnya. Barang kali ia tengah terbayang-bayang oppung (kakek), inang matua (nenek) dan bounya (tante) yang beberapa hari ini benar-benar memberinya sebuah kebebasan dan konser non stop sepanjang hari. Ya, dia memang sangat senang menari dan bernyanyi. Sepanjang hari ia hanya menari dan menyanyi sambil menghabiskan waktu-waktu berkualitas di rumah ini. Oooohhh, Jeje, i love you. Miss you cutest niece.








Selasa, 22 Juli 2014

Siapakah Yang Mampu Mengubah Indonesia? (Bagian 1)


            Salam sejahtera!

            Seperti yang kita ketahui beberapa waktu yang lalu, negara kita tengah merayakan pesta demokrasi yang sangat kita tunggu-tunggu. Ya, dimana kita harus memilih pemimpin selanjutnya bagi bangsa ini. Masih hangat-hangatnya buah bibir ratusan juta rakyat Indonesia tentang pilihan masing-masing. Tentu kita sudah tahu siapa saja yang menjadi kandidat pemimpin masa depan bangsa kita. Bahkan ada banyak orang yang rela saling berdebat hanya ingin mempertahankan pendapat mereka tentang sosok-sosok anak bangsa yang terpilih sebagai calon pemimpin Indonesia di masa yang akan datang. Termasuk salah satu yang melakukan perdebatan itu adalah saya dan bapak saya. Meskipun saya bukan seorang mahasiswi yang begitu tertarik dengan dunia politik.

Suatu kali, saya mendengar seorang dari antara mereka mendeklarasikan visi dan misi mereka pada acara yang sering kita sebut dengan kampanye. Kemudian ia menyelip kalimat-kalimat yang diharapkannya dapat membius rakyat Indonesia agar memilih dirinya. Yang dapat saya kutip, ia berkata, “Apabila saya menjadi Presiden, saya akan bertanggung jawab untuk mengubah Indonesia menjadi negara maju. Jangan salah pilih pemimpin anda! Pilihlah yang terbaik bagi bangsa ini! Saya akan menyejahterakan Indonesia! Saya akan membangkitkan kembali kehormatan bangsa ini di mata dunia!”

            Saat itu saya hanya terperongo mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan beliau dengan semangat yang menggebu-gebu. Namun sejurus kemudian, entah kenapa saya merasa kalimat ini sungguh mencerminkan kesombongan yang dimilikinya. Bagaimana mungkin ia seorang diri bersama dengan wakilnya dapat mengubah Indonesia ini menjadi negara maju? Bagaimana mungkin dengan kekuatannya semata ia mampu menyejahterakan Indonesia? Dalam hati saya berteriak, “Anda salah, Pak! Anda sama sekali tidak bisa mengubah Indonesia ini menjadi negara maju! Kekuatan anda sendiri tidak bisa menyejahterakan negara ini!” Namun kalimat itu tak mampu terucap dari bibir saya, karena bapak saya merupakan salah satu pendukung beliau.

            Bagi saya, masa depan bangsa ini berada di tangan para anak-anak muda bukan Presiden Indonesia. Generasi yang akan melanjutkan nafas kehidupan dan nasib bangsa. Apakah bangsa ini akan tetap menjadi negara miskin atau akan beranjak menuju ke arah yang lebih baik? Jawabannya hanya ada pada generasi muda penerus bangsa, bukan pada calon pemimpin negara. Kita sebagai anak muda yang seharusnya sadar bahwa kita harus memulai perubahan demi perubahan dari diri kita sendiri. Membuang kebiasaan buruk dengan membuang-buang waktu di diskotik, menghentikan kesenangan kita untuk mencuri jam sekolah untuk pergi ke tempat-tempat lain tanpa izini orang tua alias “bolos”. Mari kita belajar mencintai tubuh kita dengan tidak lagi menjalin hubungan bebas, hamil diluar pernikahan (bagi remaja putri), dan membiarkan anak-anak kita terlantar di jalanan. Seharusnya kita tidak lagi mencari-cari pemimpin yang mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik tapi menyadari bahwa kitalah yang harus mengubah Indonesia.

            Jangan pernah membiarkan diri kita dibius oleh oknum-oknum penguasa dan mengambil alih hak kita untuk bualan-bualan mereka. Mari kita tunjukkan bahwa kita generasi muda mampu mengemban tanggung jawab kita dan tidak lagi diperdaya oleh oknum-oknum nakal seperti dia. Buktikan kualitas kita sebagai anak bangsa membawa Indonesia menjadi lebih baik, lebih hebat dan berwibawa di mata dunia.

            Dan tidak lupa bagi orang-orang tua untuk mengingatkan kami anak-anak muda. Agar kami tetap berjalan pada visi dan misi bangsa untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Tidak lagi dibutakan oleh kesombongan-kesombongan calon pemimpin yang mengumbar-umbar janji bodoh semata. Tidakkah kita sadari bahwa bukan janji yang kita perlu, tapi bukti yang membawa kita menuju jalan yang seharusnya kita tempuh untuk menjadi negara yang berdiri sendiri dan berdampak bagi manca negara. Jadi sekali lagi saya tegaskan, jangan pernah berpikir bahwa pemimpinlah yang dapat mengubah Indonesia melainkan generasi mudalah tumpuan kita. Generasi yang menjadi selimut hangat bagi anak-anak yang kedinginan, orang-orang tua yang kelaparan dan mereka yang masih berteriak kesakitan.

            Salam semangat anak muda bangsa Indonesia!

            Indonesia Merdeka! Indonesia Negara Maju!
****