Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Juli 2014, kakak laki-laki, istrinya dan anak perempuan mereka berlibur ke rumahku dimana aku dan orang tuaku tinggal saat ini. Ya, masa-masa seperti ini memang masa yang paling dinantikan oleh seorang kakek, nenek dan tante. Demikian pula yang kami rasakan, sejak sebulan sebelum kedatangan mereka pun kami sudah sibuk mempersiapkan penyambutan kedatangan mereka. Mulai dari bebersih rumah, mengganti dekorasi rumah hingga memasak makanan yang akan kami santap bersama ketika mereka sudah tiba di depan mata.
Sebut saja quality time, hal itulah yang kami lewatkan bersama dalam istana kecil yang super sederhana dalam beberapa hari kehadiran mereka. Waktu-waktu yang berkualitas dengan kegiatan-kegiatan yang berkualitas pula. Ada banyak lucu yang tak dapat kulupakan ketika aku menunaikan tugasku sebagai seorang tante. Tidak kusangka, aku suka beranjak dewasa. Sekarang aku sudah memiliki seorang keponakan dan mungkin saja segera Tuhan juga akan mempertemukan aku dengan lelaki yang kehilangan tulang rusuknya dan tulang rusuk itu adalah aku. Hmm, lumayan menyenangkan meski kuakui kegiatan ini melelahkan. Aku belajar untuk merawat balita, hitung-hitung bekalku bila nanti aku sudah menjadi seorang ibu. Mulai dari mandi, makan, bermain, bahkan menemaninya sebelum tidur, meski aku tetap saja dibantu ibunya dan pengasuhnya.
Hari pertama, kami berkunjung ke rumah salah satu teman. Ia begitu bahagia ketika masuk ruang berpendingin ruangan, menari riang sambil bernyanyi kesenangan. "Salam tantenya, dek."ujarku mengajarinya menyapa orang yang lebih tua. Ia masih tampak kesenangan, kemudian aku lagi-lagi berkata "Je, ada dedek. Salam dedeknya, sayang dedekny." Ia justru semakin tertawa ketika melihat wajah lucu adik kecil anak pemilik rumah. Namun wajahnya tiba-tiba berubah ketika melihat seorang lelaki dewasa datang dari dapur, dan mulai mendekatinya. Ia berteriak histeris ketakutan, entah apa yang dipikirkannya. Setiap bulan ada saja tingkah lakunya yang aneh.
Satu-satunya pilihan hanya membawanya keluar dari rumah itu. Aku dan pengasuhnya mencoba menghilangkan rasa takutnya dengan bermain di halaman rumah itu. Tiba-tiba dia bergaya seperti ingin dipotret, tanganku segera meraih hand phone dan memulai edisi pemotretan ala Jeje dan Maria. Hal yang menggelikan juga terjadi ketika suatu malam kami bermain di ranjang mama. Tiba-tiba Jeje terdiam dan memanggilku, "Bou... Bou..."demikian Jeje kerap menyapaku layaknya anak berdarah Batak lainnya menyapa adik perempuan ayahnya. "Ada apa, Je?"tanyaku polos. "Sedikit.. Basah sedikit.."ujarnya tanpa ekspresi. "Iya, gak apa-apa. Basah sedikit."ujarku meski tak mengerti apa yang dimaksudnya basah sedikit. Aku menerka-nerka bahwa basah itu karena ia sudah keringatan setelah bermain.
Ia melanjutkan bermain di ranjang, lantas bergerak-gerak sesuka hatinya. Sejurus kemudian dengan gemasnya aku mencium lengan kaki Jeje, tanpa sengaja aku memegang bagian bawah celana yang biasa terhimpit duduk. "Lho, kok basah?"tanyaku dalam hati. "Astaga! Kamu pipis ya, Je? Kok gak bilang sama bou? Hahahaha...."ujarku hanya bisa tertawa mengingat ucapannya yang super duper lucu saat berkata "Bou... Bou... Basah sedikit." Ternyata ia sedang mengadu bahwa ia sudah pipis di celana tapi takut dimarahi. Hah! Ini semua tidak bisa dilupakan! Benar-benar tidak bisa dilupakan! Hahahaha.......
Hari terakhir, ia semangat bangun pagi karena ingin naik mobil untuk jalan-jalan keliling kota. Dan selesai mandi ia sesering mungkin memanggil kakeknya, "Oppung, Oppung mau ikut?"ujarnya dengan lidah cadel khas balita seumuran dirinya. Bahkan hingga siap beranjak pergi pun selalu berkata, "Oppung... Kenapa gak ikut?"dengan ekspresinya yang super duper polos. Kini dia sudah tiba di singgasana hatinya, tapi aku tidak yakin ia akan sebahagia sebelumnya. Barang kali ia tengah terbayang-bayang oppung (kakek), inang matua (nenek) dan bounya (tante) yang beberapa hari ini benar-benar memberinya sebuah kebebasan dan konser non stop sepanjang hari. Ya, dia memang sangat senang menari dan bernyanyi. Sepanjang hari ia hanya menari dan menyanyi sambil menghabiskan waktu-waktu berkualitas di rumah ini. Oooohhh, Jeje, i love you. Miss you cutest niece.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar