Dearest Mama,
Ucapan kata tak lagi terucap
dalam bibirku yang membiru
Aku sudah tak mempunyai kalimat
tuk menjelaskan hasratku
Biarlah tangisku yang berkata
dalam isaknya
Biarlah lukaku yang melukiskan
semua kesalahanku
Bahkan hingga air mata ini takkan
lagi meneteskan di mataku
Dalam setiap waktu yang kuraih
dalam mentari,
Dalam setiap gelap yang kututup
dengan hati
Tak sedikitpun tersirat dalam
benakku tuk meninggalkanmu
Meninggalkanmu secepat yang kau
mau
Saat emosimu memuncak
mengungkapkan luka itu
Kuberteriak dalam jiwaku,
kumenangis dalam kesendirianku
Aku bukannya tak ingin menjadi
apa yang kau mau
Bukan selalu ingin menyakiti
perasaanmu
Namun tolong berikan aku waktu, tolonglah
aku
Barang sedetik mungkin begitu
berarti bagiku
Jiwaku bekerja dalam malam,
terbang bersama awan
Mencari jati diri yang mampu
menghapus tangismu
Mama, mengertilah isi hatiku. Mengertilah
ma.
Mengertilah betapa aku
mencintaimu
Meski tingkahku terkadang harus
menyakitimu
Jangan minta aku begitu cepat
meninggalkanmu
Jangan minta aku salah memilih
seperti yang kau lakukan dulu
Aku tak ingin aku hanya akan
menemukan seseorang seperti dia
Dia yang selalu menoreh luka
sepanjang hidupmu
Dan manusia yang serupa dengan
rupaku
Berikan aku waktu untuk menjadi
seperti apa yang kau mau
Berikan aku waktu untuk menemukan
dia yang mencintaiku
Dia yang juga tak menyakitimu dan
aku
Bukankah kau yang slalu
mengatakannya padaku?
Jangan salah pilih lagi!
Hari ini, kapan aku ingin menutup
mataku
Aku ingin melihat dalam mata
tertutup
Aku ingin mendengar ketika aku
tak lagi bisa mendengar
Biar langkahku mampu menemukannya
bersama hatiku
Hati yang menjadi bagian dari
jiwaku
Agar aku bisa melukiskan tawa
dihatimu
Ketika aku sudah tak lagi seatap
denganmu
Agar pasir berhenti melukai kerang
setelah mutiara