Kamis, 12 Maret 2015

Cinta Tapi Beda (Kisah Inspiratif) - Versi Maria Elly Munthe, Bukan Saduran.. Hihihi...

(Hollaaaaa!!!

Apa kabar sobat-sobatku tercinta? Maaf ya, aku udah lama gak nge-posting. Soalnya lagi sibuk ngurusin Tugas Akhir nih. Hehehehe.. Doain supaya tugas akhir aku cepet kelar ya, supaya selanjutnya aku bisa meneruskan kerinduan aku untuk berbagi melalui tulisan di blog ini. :) Hmm, kalo gitu to the point aja ya.)


       Entah sudah berapa lama aku tidak membuka account facebook-ku. Semangatku terbakar sempurna, tak sabar lagi ingin melihat pemberitahuan apa yang sudah terlewatkan beberapa waktu ini. Ya, aku masih seperti gadis lainnya yang tak bisa hidup tanpa sosial media. Hehehehe.... Tidak heran kalau aku sudah seperti kehilangan nyawaku karena tidak bertemu akun sosial media dalam sehari. "Lho, ini siapa? Sepertinya aku tidak kenal." bisikku dalam hati. Ia mengirimi aku sebuah pesan singkat di facebook yang mengawali perkenalan kami. "Hallo, salam kenal ya." kira-kira itulah kalimat pertama yang dikirimnya saat itu.

            "Dek, kamu ngapain? Jangan main facebook terus! Banyak yang mau dikerjain!" omel mama-ku melihat aku sedang mengamati hand phone buatan china itu dalam genggamanku. Kulangkahkan kakiku ke tempat yang lebih tersembunyi, barang kali mama tidak memperhatikanku lagi. "Hah?! Sekarang aman." ujarku sembari mengamati kembali pesan facebook itu. "Jawab, enggak, jawab, enggak? Ah, jawab aja deh. Siapa tahu orangnya baik." ucapku memutuskan membalas pesan singkat gadis itu. Kalimat pertama, kalimat kedua, sampai akhirnya kami bertukar nomor handphone. (berhubung waktu itu, hanya itu satu-satunya alat komunikasi kami paling efektik. Hehehe...)

             Semakin hari aku semakin dekat dengan perempuan ini, perempuan yang tidak sama sekali pernah kutemui sebelumnya. Yang aku tahu, alasan pertamanya hanya ingin tahu tentang gadis yang tengah dekat dengan lelaki pujaannya. Hahahah... Lucu memang, lucu sekali. Kalau biasanya orang lain bertengkar dan saling berebut, kenapa kami justru memulai persahabatan ya? Tapi aku percaya ini bukan sekedar kebetulan. Gadis itu berasal dari Cilacap, lahir pada 12 Januari 1982, belum menikah dan sangat luar biasa. Singkat cerita, kami memulai kisah kami hari demi hari. Setiap harinya aku mendapatkan banyak hal yang sangat menguatkan, sangat membangun bahkan membuatku kembali bersemangat.

         "Dek, kakak mau jujur. Tapi kamu masih mau temen kan sama kakak, kalau kakak jujur?" ucapnya takut-takut. "Memangnya soal apa, Kak? Ya enggak lah, aku pasti masih mau temen sama kakak. Emanng soal apa sih?" jawabku polos. Betapa terharunya aku ketika membaca jawabannya, "Aku hanya seorang gadis yang SMP pun tidak tamat, bahkan sekarang aku bekerja sebagai asisten rumah tangga di sini." jawabnya tak kalah polos. Rasanya aku masih tidak pernah dengan ucapannya, bahkan beberapa kali aku mengira dia hanya jelmaan lelaki yang tengah dekat denganku saat itu. Karena mereka punya banyak kebiasaan yang sama. Entah itu hanya perasaanku saja. Ya, hati mana mungkin bisa berdusta. Hahahaha......
              
          "Bagaimana mungkin seorang yang tidak tamat SMP bisa sebijaksana ini? Sedangkan aku yang sedang kuliah saja masih suka bego' soal hidup, hubungan sosial, dll. Apalagi soal hukum Tuhan." bisikku dalam hati. Namun seiring berjalannya waktu, aku semakin percaya dan semakin menyukai persahabatan ini. Aku merasa menemukan seseorang yang tepat untuk kujadikan sosok kakak dalam hidupku. Meski selama ini, aku juga punya banyak teman yang begitu memotivasi aku. Setulus hati aku begitu mengasihi dia, begitu ingin bertemu dengannya, bahkan merasa dia adalah salah satu kakak bagiku. Meski aku dilahirkan menjadi anak perempuan satu-satunya dalam keluargaku. Jarak yang membentang di antara kami hanya dipertemukan di dalam doa, facebook dan sms belaka.

          Hampir setiap hari kami berbagi kesaksian satu sama lain, baik yang kami lalui hari ini maupun yang kami lalui bertahun-tahun lalu. Saat-saat dimana Tuhan meluputkan kami dari kematian, atau banyak hal yang Tuhan lakukan dalam hidup kami. Nah, beberapa bulan ini komunikasi kami sempat terputus saat kami punya banyak kesibukan yang begitu menyita kebersamaan maya kami. Hingga akhirnya aku menemukan kebersamaan itu sebulan belakangan ini. Saat pertama kali dia akhirnya mempunyai sebuah akun whatsapp. Kami memulai kembali kebersamaan kami yang belakangan ini pudar.

       Entah dorongan dari mana, aku membuat sebuah group whatsapp dengan salah satu kakak rohaniku pula. Setiap kali selesai berbincang-bincang, aku teringat berbagai kejadian yang kualami bersama dia. Kala itu mengabariku bahwa ia menitipkan sebuah buku pada Bapak Gembala yang sedang berkunjung ke kota tempat ia tinggal. Hei, ada apa ini? Dalam hidupku, aku belum pernah menerima hadiah se'mahal' ini. Bukan karena harganya yang relatif mahal, tapi karena ia berusaha menyisihkan uangnya untuk membelikan aku buku itu. "Dek, kakak titip buku sama beliau. Kakak rasa buku itu bagus banget dan harus kamu baca, Dek!" ucapnya di pesan singkat itu.

         Tangisku pecah dalam air mata yang tertahan. Dimana? Dimana lagi kutemukan pribadi seperti ini? Bukankah kasih dunia semakin dingin? Sebulan yang lalu dia juga mengabariku tentang seorang penulis terkenal yang saat ini sedang membuka sebuah Media Penerbitan. Betapa kagetnya aku, ketika tahu bahwa dalam setiap detik dalam hidupnya begitu mempedulikan aku. Mungkin perkenalan kami dimulai dari sebuah kejadian yang tak diinginkan. Tapi tidak dengan kisah persahabatan yang Tuhan titipkan dalam hari-hari kami. Bahkan ketika kami sudah melupakan lelaki itu, kami masih terus saling membangun, berbagi kepedulian dan banyak hal lain. Hatiku tergugah. Terlalu mudah untuk menerima orang yang terkenal, hebat, punya jabatan, kekayaan dan lain-lain. Tapi menerima orang dalam kekurangan dan ketertolakannya adalah sebuah 'hadiah' yang tak ternilai harganya.

       Aku bisa membayangkan kalau dia tidak ditolak teman-temannya. Dipandang oleh semua orang, mungkin kami tidak akan seperti hari ini. Kami berasal dari dua suka bangsa yang berbeda dari Indonesia tercinta ini. Warna kulit yang sedikit berbeda. Latar belakang yang jauh bertolak belakang, bahkan pendidikan yang berbeda pula. Tapi warna-warni kehidupan menjadikan kami satu dan terasa indah. Berawal dari hal yang tidak menyenangkan, dan aku percaya akan melahirkan hal yang luar biasa suatu hari nanti. :) Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan.

        Salam manis!


       Maria Elly Munthe