Minggu, 21 Juli 2013

Sepucuk Surat Untuk Mama

Dearest Mama,
Ucapan kata tak lagi terucap dalam bibirku yang membiru
Aku sudah tak mempunyai kalimat tuk menjelaskan hasratku
Biarlah tangisku yang berkata dalam isaknya
Biarlah lukaku yang melukiskan semua kesalahanku
Bahkan hingga air mata ini takkan lagi meneteskan di mataku

Dalam setiap waktu yang kuraih dalam mentari,
Dalam setiap gelap yang kututup dengan hati
Tak sedikitpun tersirat dalam benakku tuk meninggalkanmu
Meninggalkanmu secepat yang kau mau
Saat emosimu memuncak mengungkapkan luka itu

Kuberteriak dalam jiwaku, kumenangis dalam kesendirianku
Aku bukannya tak ingin menjadi apa yang kau mau
Bukan selalu ingin menyakiti perasaanmu
Namun tolong berikan aku waktu, tolonglah aku
Barang sedetik mungkin begitu berarti bagiku

Jiwaku bekerja dalam malam, terbang bersama awan
Mencari jati diri yang mampu menghapus tangismu
Mama, mengertilah isi hatiku. Mengertilah ma.
Mengertilah betapa aku mencintaimu
Meski tingkahku terkadang harus menyakitimu

Jangan minta aku begitu cepat meninggalkanmu
Jangan minta aku salah memilih seperti yang kau lakukan dulu
Aku tak ingin aku hanya akan menemukan seseorang seperti dia
Dia yang selalu menoreh luka sepanjang hidupmu
Dan manusia yang serupa dengan rupaku

Berikan aku waktu untuk menjadi seperti apa yang kau mau
Berikan aku waktu untuk menemukan dia yang mencintaiku
Dia yang juga tak menyakitimu dan aku
Bukankah kau yang slalu mengatakannya padaku?
Jangan salah pilih lagi!

Hari ini, kapan aku ingin menutup mataku
Aku ingin melihat dalam mata tertutup
Aku ingin mendengar ketika aku tak lagi bisa mendengar
Biar langkahku mampu menemukannya bersama hatiku
Hati yang menjadi bagian dari jiwaku
Agar aku bisa melukiskan tawa dihatimu
Ketika aku sudah tak lagi seatap denganmu

Agar pasir berhenti melukai kerang setelah mutiara


Minggu, 03 Maret 2013

Mujizat Pertama dalam Hidupku

          Aku di lahirkan sekitar dua puluh tahun yang lalu, tepat pada hari Rabu, 28 Oktober 1992 pukul 21.05 WIB. Ya, sesuatu yang pasti bahwa aku dilahirkan pada hari peringatan Sumpah Pemuda yang ke 64 tahun. Sejujurnya aku patut bersyukur dilahirkan pada hari yang tidak sembarangan bagi bangsa Indonesia. Namun bagiku itu bukan yang terpenting, tapi yang terpenting bagiku karena pada hari itu Tuhan melukis sejarah baru dalam hidupku. Bukan cuma untuk diriku dan keluarga besarku tapi juga buat dunia.
          Sebelum aku dilahirkan, papa dan mama sudah dikaruniai seorang anak lelaki ganteng bernama Jhon Affrianto Saragih Munthe pada tanggal 5 April 1988. Beberapa tahun menjelang, papa dan mama ku kehilangan bayi dalam kandungan mama. Mungkin juga saat itu mama terlalu lelah setelah pulang kantor, membuat bayi itu harus meninggalkan mereka. Ibu mana yang bisa menahan air matanya ketika ia harus kehilangan bayi yang sudah dikandungnya separuh jalan.
          Menurut dokter, akan sulit bagi mama untuk mengandung kembali karena kerusakan-kerusakan pada rahim mama yang disebabkan oleh keguguran ini. Sungguh sulit bagi mama menerima kenyataan bila ia tidak bisa memberikan adik buat anak sulungnya dan seorang putri untuk suaminya tercinta. Namun kehidupan bukan sekedar jalan cerita yang bisa diterka, mama hanya bisa pasrah dengan semua kenyataan-kenyataan sementara yang dokter ucapkan. Tiga tahun kemudian, Tuhan berpihak kepada mama. Mungkin saja Tuhan merasa mama pantas tersenyum melihat tawa gadis mungil yang keluar dari rahimnya.
            Akhirnya mama mengandung anak ketiganya, ketiga? Ya, anak kedua sudah mengakhiri harinya sebelum ia melihat dunia, jadi anak dikandungan mama itu adalah yang ketiga. Sesuatu yang sangat mustahil sedang terjadi dalam kehidupan keluarga ini. Kebahagiaan tersendiri buat mama ketika ia berhasil menjadi wanita yang sempurna untuk ketiga kalinya. Ia akan merasakan mual-mualnya, pergerakan-pergerakannya bahkan rasa sakit dan perjuangannya.
             Singkat cerita, sembilan bulan sepuluh hari berlalu dengan sempurna. Sudah saatnya mama akan segera menimang putri mungil yang dirawatnya sedemikian rupa di dalam tubuhnya. Detik-detik mama menanti kelahiran putrinya di saat itu pula papa masih harus meninggalkan mama ratusan kilometer di kota seberang untuk mencari kehidupan layak. Paman (abang mama yang ku panggil tulang) dan Uwak (kakak mama yang ku panggil mak uo) yang menemani mama melewati rasa sakitnya.
             Kata mama, rasa sakit itu datang tidak tepat waktu karena pada saat yang sama dokter kandungan di Rumah Sakit Asuransi Kesehatan Ketenagakerjaan Mama sedang tidak ditempat. Kondisi kandungan mama juga pada kondisi terburuk, karena posisi kepala ku tidak tepat di jalan keluar bayi. Jadi dengan kata lain, aku dalam posisi sungsang. Perlu diakui mama, mama memang sangat jarang senam kehamilan dan jalan pagi untuk memperlancar kehamilannya nanti.
            Menurut riwayat kedokteran, bayi sungsang hanya bisa diselamatkan dengan operasi caesar. Sedangkan pada saat yang sama dokter kandungan belum bisa hadir untuk menolong mama. Perawat dan bidan hanya bisa menganjurkan mama harus berjalan menunggu doketr tiba agar bayi dalam kandungan mama bisa bertahan dan mempermudah proses persalinan. Tapi pada detik-detik terakhir yang menegangkan, air ketuban mama sudah nyaris habis, kaki kiriku juga sudah keluar, tapi dokter belum juga datang. Mama juga sudah nyaris kehabisan tenaganya, namun satu hal yang menguatkan mama "anak ini mujizat".
             Dalam kondisi tidak ada lagi harapan untuk hamil, mama mengandung anak ini. Begitu pula dengan kelahirannya, ketika semua orang sudah mengikhlaskan mama dan bayinya meninggalkan mereka selamanya maka ketika itu pula bayi ini menjadi kekuatan mama dan meciptakan sejarah baru. Bidan-bidan yang ada termotivasi dengan semangat mama untuk tetap hidup dan mengeluarkan bayinya dengan selamat. Mereka memberanikan diri membantu mama melahirkan tanpa dokter kandungan dalam kondisi yang sangat kritis.
              Dan ketika itu pula gadis ini melihat dunia, menangis haru melukis tawa bagi semua manusia yang menyaksikan kelahirannya. Kemudian hari mama memberinya nama Maria Elly Oktalina Saragih Munthe. Ya, di saat-saat tidak ada lagi harapan Tuhan memberinya jawaban. Inilah mujizat pertama dalam hidupku. Ketika dokter tidak lagi menemukan harapan janin baru dalam rahim mama, aku tiba menjadi janin yang memberi harapan. Ketika semua orang sudah menyangka mama dan aku harus menutup mata, aku justru lahir dengan normal dan persalinan normal (tanpa caesar). Dan ini catatan pertama di Rumah Sakit ini ada bayi sungsang yang lahir normal. Dibesarkan dan kini tumbuh menjadi gadis muda penuh semangat hidup. Amazing! :)

Kamis, 31 Januari 2013

Kesaksian Nyata : Going Strong! (Rina's life)


Beberapa tahun yang lalu Saya berkenalan dengan seorang gadis. Ketika itu Saya baru saja sah menjadi siswa baru di SMA Negeri 2 Mandau. Sebut saja namanya Rina, Saya mengenal Rina karena Saya dan Rina sama-sama bagian dari kelas X 6 saat itu. Dengan kata lain, Rina adalah teman sekelas Saya. Sebelumnya, sempat terbayangkan oleh Saya bahwa teman-teman baru Saya akan mempermasalahkan perbedaan di antara kami. Benar, hal ini memang terjadi. Hal ini memang kerap terjadi antar suku di Provinsi Riau, mereka mengganggap bahwa kami sedikit berbeda dengan mereka. Uniknya, Rina tidak melakukan hal yang sama. Bahkan sering sekali Rina meyakinkan Saya bahwa tidak ada sedikit pun yang perlu dipermasalahkan dari setiap perbedaan yang ada.
                Singkat cerita, persahabatan kami semakin dekat. Layaknya anak-anak remaja biasanya, kami sering bertukar cerita di emperan kelas. Salah satu cerita yang paling menarik dari cerita kehidupannya ketika Rina bercerita tentang kekasihnya. Menurut ceritanya, beberapa tahun yang lalu ia mulai membangun hubungan spesial dengan seorang lelaki yang lebih muda beberapa tahun darinya. Namun sama halnya denganku, Rina yang lebih tua beberapa tahun dariku ini tak ingin dipanggil dengan sebutan Kak. Cukup memanggil namanya saja, layaknya teman seusia. Kabarnya, lelaki ini bukan lelaki remaja biasanya. Ia punya banyak kebiasaan buruk yang sangat-sangat tidak menyenangkan. Dan masih kabar-kabarnya, lelaki ini banyak merubah kebiasaan buruk dan belajar untuk hidup lebih baik dari Rina.
                Awalnya, Rina memang sangat tidak suka dengan Ando. Ya, sebut saja nama lelaki itu Ando. Tapi demi sebuah kedamaian dan ketentraman sekelilingnya, Rina rela mengorbankan dirinya untuk menjalin tali kasih tanpa cinta di antara mereka. Untungnya Rina berhasil belajar menerima Ando apa adanya dan menaklukan sikap buruk Ando. Untuk beberapa saat ini, aku hanya bisa menerima cerita-cerita itu saja meskipun aku belum tahu sebejat apa Ando itu sebenarnya. Di kelas dua dan berlanjut ke kelas tiga SMA kami masih tergabung dalam kelas yang sama. Meski tak selalu bersama tapi kami masih selalu menjalin persahabatan baik.
                Rina mengajarkanku untuk lebih bersikap ramah dan terbuka dengan teman-teman suku lain. Gadis berkulit sawo matang, bertubuh agak berisi, dan gelak tawa yang begitu menghibur ini terus saja menjadi gadis yang menyenangkan. Tak pernah sekalipun terbesit air mata, keluh kesah, sumpah serapah atau hal-hal buruk yang lainnya. Semakin hari, segenap persahabatan di Kelas 2 IPA 2 dan 3 IPA 2 menghangatkan cerita. Tawa demi tawa yang tercipta mulai membuat sejarah yang semakin berwarna. Sayangnya, suatu sore yang kelabu tawa itu mulai tertahan. Saat itu kami sedang pelajaran tambahan persiapan menuju UAN.
                Setelah seharian mempersiapkan UAS kesenian, latihan vokal grup, kami melanjutkan dengan mata pelajaran tambahan. Hmm, langit mulai gelap, angin bertiup lebih kencang, awan berkejar-kejaran seakan menahan amarah. Tiba-tiba, tepat pukul 16.00 WIB petir besar menggetarkan di atas kelas 3 IPA 2. Suasana kelas yang tadinya masih riuh rendah mendadak senyap ketakutan, tak terkecuali Rina yang kemudian memegangi jantungnya sambil merintih kesakitan. Wajahnya yang begitu ceria sekonyong-konyong berubah pucat tak berdarah. Tubuhnya lemah tak berdaya.
                Beberapa teman menghubungi Bapak Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan yang sudah sangat akrab dengan kami. Berharap beliau bisa membantu menghantarkan Rina pulang ke rumah dengan mobil Teriosnya. Mungkin juga karena kami sudah menganggap beliau bukan lagi sebagai guru tapi sebagai orang tua , yang membuat kami bernyali mendatangi ruang kelas yang sedang di ajarnya. Singkat cerita, keesokan harinya Rina menghembuskan nafas terakhirnya. Waktu begitu cepat berlalu, serasa baru kemarin sore kami berkenalan tapi kini semua sudah menjadi bingkisan kenangan. Suasana kelas yang biasanya ceria penuh tawa langsung berubah penuh air mata. Bahkan setiap guru merasa begitu kehilangan sosok Rina.
                Mengapa? Mengapa kami harus kehilangan Rina? Ya, aku tidak pernah peduli dari suku atau agama apa dia. Aku juga tidak menghiraukan bagaimana orang lain menilai dirinya. Bagiku, terlalu banyak yang hal berharga yang ku pelajari darinya.
1.       Aku belajar menghargai orang-orang yang bersikap tidak biasanya. Belajar berteman dengan mereka dan mulai mengubahkan hidup mereka dari pertemanan itu. Meskipun terkadang terasa begitu berat.
2.       Aku belajar menghargai perbedaan. Meski kami berasal dari suku yang berbeda, agama yang berbeda dan warna kulit yang juga berbeda namun itu tak menghambat kami untuk menciptakan tawa demi tawa.
3.       Aku belajar tidak mengeluh, menjadi kesukaan dimanapun aku berada. Siapa sangka penyakit jantung yang di deritanya sebegitu parah? Saat itu aku juga sempat memiliki sebuah gangguan kesehatan, Puji Tuhan, sejak aku belajar untuk tidak mengeluh dan semangat menghadapi kehidupan kini gangguan kesehatan itu sirna. Kesembuhan itu juga tidak lepas dari Kasih Tuhan dalam hidupku. Dan siapa pula yang menyangka bila kepergiaannya meninggalkan milyaran kenangan yang takkan sirna ditelan masa.
                Kalau orang seperti Rina yang belum pernah mengenal Yesus bisa memberi banyak dampak positif bagi orang-orang di sekelilingnya, lantas bagaimana dengan kita yang mengaku pengikut Kristus? Maka mulai saat ini mari kita sama-sama belajar dari Rina untuk semakin diubahkan menjadi seperti karakter Kristus.
Hmm, ini ceritaku. Bagaimana dengan mu?
J

Salam manis,

Maria Elly Costhyafelant Munthe