Minggu, 03 Maret 2013

Mujizat Pertama dalam Hidupku

          Aku di lahirkan sekitar dua puluh tahun yang lalu, tepat pada hari Rabu, 28 Oktober 1992 pukul 21.05 WIB. Ya, sesuatu yang pasti bahwa aku dilahirkan pada hari peringatan Sumpah Pemuda yang ke 64 tahun. Sejujurnya aku patut bersyukur dilahirkan pada hari yang tidak sembarangan bagi bangsa Indonesia. Namun bagiku itu bukan yang terpenting, tapi yang terpenting bagiku karena pada hari itu Tuhan melukis sejarah baru dalam hidupku. Bukan cuma untuk diriku dan keluarga besarku tapi juga buat dunia.
          Sebelum aku dilahirkan, papa dan mama sudah dikaruniai seorang anak lelaki ganteng bernama Jhon Affrianto Saragih Munthe pada tanggal 5 April 1988. Beberapa tahun menjelang, papa dan mama ku kehilangan bayi dalam kandungan mama. Mungkin juga saat itu mama terlalu lelah setelah pulang kantor, membuat bayi itu harus meninggalkan mereka. Ibu mana yang bisa menahan air matanya ketika ia harus kehilangan bayi yang sudah dikandungnya separuh jalan.
          Menurut dokter, akan sulit bagi mama untuk mengandung kembali karena kerusakan-kerusakan pada rahim mama yang disebabkan oleh keguguran ini. Sungguh sulit bagi mama menerima kenyataan bila ia tidak bisa memberikan adik buat anak sulungnya dan seorang putri untuk suaminya tercinta. Namun kehidupan bukan sekedar jalan cerita yang bisa diterka, mama hanya bisa pasrah dengan semua kenyataan-kenyataan sementara yang dokter ucapkan. Tiga tahun kemudian, Tuhan berpihak kepada mama. Mungkin saja Tuhan merasa mama pantas tersenyum melihat tawa gadis mungil yang keluar dari rahimnya.
            Akhirnya mama mengandung anak ketiganya, ketiga? Ya, anak kedua sudah mengakhiri harinya sebelum ia melihat dunia, jadi anak dikandungan mama itu adalah yang ketiga. Sesuatu yang sangat mustahil sedang terjadi dalam kehidupan keluarga ini. Kebahagiaan tersendiri buat mama ketika ia berhasil menjadi wanita yang sempurna untuk ketiga kalinya. Ia akan merasakan mual-mualnya, pergerakan-pergerakannya bahkan rasa sakit dan perjuangannya.
             Singkat cerita, sembilan bulan sepuluh hari berlalu dengan sempurna. Sudah saatnya mama akan segera menimang putri mungil yang dirawatnya sedemikian rupa di dalam tubuhnya. Detik-detik mama menanti kelahiran putrinya di saat itu pula papa masih harus meninggalkan mama ratusan kilometer di kota seberang untuk mencari kehidupan layak. Paman (abang mama yang ku panggil tulang) dan Uwak (kakak mama yang ku panggil mak uo) yang menemani mama melewati rasa sakitnya.
             Kata mama, rasa sakit itu datang tidak tepat waktu karena pada saat yang sama dokter kandungan di Rumah Sakit Asuransi Kesehatan Ketenagakerjaan Mama sedang tidak ditempat. Kondisi kandungan mama juga pada kondisi terburuk, karena posisi kepala ku tidak tepat di jalan keluar bayi. Jadi dengan kata lain, aku dalam posisi sungsang. Perlu diakui mama, mama memang sangat jarang senam kehamilan dan jalan pagi untuk memperlancar kehamilannya nanti.
            Menurut riwayat kedokteran, bayi sungsang hanya bisa diselamatkan dengan operasi caesar. Sedangkan pada saat yang sama dokter kandungan belum bisa hadir untuk menolong mama. Perawat dan bidan hanya bisa menganjurkan mama harus berjalan menunggu doketr tiba agar bayi dalam kandungan mama bisa bertahan dan mempermudah proses persalinan. Tapi pada detik-detik terakhir yang menegangkan, air ketuban mama sudah nyaris habis, kaki kiriku juga sudah keluar, tapi dokter belum juga datang. Mama juga sudah nyaris kehabisan tenaganya, namun satu hal yang menguatkan mama "anak ini mujizat".
             Dalam kondisi tidak ada lagi harapan untuk hamil, mama mengandung anak ini. Begitu pula dengan kelahirannya, ketika semua orang sudah mengikhlaskan mama dan bayinya meninggalkan mereka selamanya maka ketika itu pula bayi ini menjadi kekuatan mama dan meciptakan sejarah baru. Bidan-bidan yang ada termotivasi dengan semangat mama untuk tetap hidup dan mengeluarkan bayinya dengan selamat. Mereka memberanikan diri membantu mama melahirkan tanpa dokter kandungan dalam kondisi yang sangat kritis.
              Dan ketika itu pula gadis ini melihat dunia, menangis haru melukis tawa bagi semua manusia yang menyaksikan kelahirannya. Kemudian hari mama memberinya nama Maria Elly Oktalina Saragih Munthe. Ya, di saat-saat tidak ada lagi harapan Tuhan memberinya jawaban. Inilah mujizat pertama dalam hidupku. Ketika dokter tidak lagi menemukan harapan janin baru dalam rahim mama, aku tiba menjadi janin yang memberi harapan. Ketika semua orang sudah menyangka mama dan aku harus menutup mata, aku justru lahir dengan normal dan persalinan normal (tanpa caesar). Dan ini catatan pertama di Rumah Sakit ini ada bayi sungsang yang lahir normal. Dibesarkan dan kini tumbuh menjadi gadis muda penuh semangat hidup. Amazing! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar