Kamis, 21 Agustus 2014

Siapakah Yang Mampu Mengubah Indonesia? (bagian 2)


Salam sejahtera!

Sebelum memulai artikel saya yang kali ini, saya ingin menyempatkan diri untuk berterima kasih kepada para pembaca yang sudah sudi membaca artikel ini dan artikel sebelumnya. Sesuai dengan judulnya, “Siapakah Yang Mampu Mengubah Indonesia?” (Bagian 2) sudah tentu ada bagian 1 nya. Kali ini, jemari saya tidak sabar ingin mengungkapkan apa yang sudah diucapkan oleh lubuk jiwa saya untuk mengusung Indonesia menuju generasi-generasi muda yang lebih baik. Dengan pertanyaan yang sama, siapa yang mampu mengubah Indonesia? Indonesia dapat berubah menjadi lebih baik tidak cukup dengan perbaikan sumber daya manusia pada masa yang akan datang. Lantas bagaimana nasib masyarakat miskin yang kini masih bergelimpangan di pinggir-pinggir jalan, di sudut-sudut kota?

 Suatu kali saya terlibat perbincangan dengan beberapa orang tentang Indonesia yang lebih baik. Tidak jarang diantara kami hanya bisa menghujat pemerintah, terutama bagi penguasa yang sudah menyalahgunakan kekuasaan mereka. Ingin sekali rasanya saya bertanya, “Apakah hanya mereka yang salah?” Namun waktu itu belum saatnya saya untuk bertanya, karena saya belum menemukan jawabannya. Dalam setiap detik hembusan nafas saya, selalu mencari-cari jawabannya. Hingga akhirnya suatu hari saya melihat acara infotainment yang meliput kelimpahan harta dan gaya hidup mewah ala selebriti dan kaum sosialita. Angan-angan saya lantas kembali pada pemandangan ibu kota yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak mampu melawan arus kerasnya kehidupan ekonomi.

Bayangkan bila sebuah tas milik salah satu selebriti-selebriti itu dijual, mungkin bisa saja membangun sebuah rumah layak huni bagi saudara-saudara kita yang kini masih tidur di emperan toko. Sedangkan mereka membeli barang-barang mewah itu tampaknya seperti hanya membeli kacang goreng saja, bukan hanya satu bahkan mereka bisa membeli barang-barang itu hingga satu kamar penuh. Bukan sebagai keperluan yang harus dipenuhi namun hanya sekedar kepuasan lahiriah semata. Tidak salah memang bila kita membeli barang-barang mewah sebanyak-banyaknya selagi kita mampu. Tapi akan lebih baik bila kita tidak harus mengharapkan pemerintah semata untuk membangun Indonesia lebih baik. Mulai dari diri kita sendiri, mungkin kita memang tidak bisa memberikan bantuan sama seperti para selebriti yang menjual satu tasnya untuk sebuah rumah layak huni.

Namun akan lebih berharga ketika beberapa orang diantara kita bersatu untuk mengumpulkan sedikitnya uang untuk membantu adik-adik kita yang belum mampu sekolah. Ataupun barang kali orang tua mereka masih terlalu berat untuk membiayai sekolah mereka. Barang membelikan mereka peralatan tulis menulis, tas sekolah, sepatu, seragam dan hal-hal kecil lainnya. Saya tidak bisa membayangkan betapa mereka akan bahagia menerima sesuatu yang masih terlihat kecil di mata kita. Bahkan bisa saja uang itu berasal dari sisa-sisa uang jajan kita per-bulan.
 
Sekitar setahun yang lalu, saya tergabung dengan sebuah kegerakan anak muda yang kami beri nama “Frontline Generation” pernah melakukan hal yang sama. Kami berdiri dan berjalan dalam berkat-berkat Tuhan yang kami punya. Untuk menambahi uang yang terkumpul dari kantong kami masing-masing, kami rela mengadakan bazar amal dengan menjual makanan, minuman dan mengamen. Hasilnya, kami membelikan alat-alat tulis seperti buku, pena, pensil, penghapus, penggaris, sampul buku dan perautnya. Lantas, kami bergerak membungkusnya menjadi beberapa paket untuk dibagikan kepada beberapa anak yang kami rasa pantas untuk menerima segelintir keringat yang kami kuras untuk mereka.

Mungkin terlihat sepele tapi saya sangat terharu ketika seorang ibu menangis sambil memeluk tubuh saya. Memang bukan cuma saya yang dipeluknya, ia rela memeluk satu per satu anggota kami hanya untuk mengucapkan betapa besar rasa terima kasih ibu tersebut. Ya, ia memang sudah memiliki apapun untuk membeli peralatan anak sekolah, Puji Tuhan, Tuhan memakai kami untuk menyalurkan berkat kepada beliau. Rasanya semangat untuk berbagi kasih kian membara di hati setiap kami, biar bukan hanya kali ini tapi akan berulang kali ada tangis suka cita di wajah saudara-saudari kita yang membutuhkannya.

Selain itu, saya juga pernah melihat dokumentasi kegiatan berbagi kasih pada akun facebook teman saya. Tampak jelas di gambar itu, mereka tengah berbagi nasi kotak dan kain sebagai selimut bagi tuna wisma di seluruh kota Bandung. Dalam keterangan dokumentasi itu, saya masih mengingatnya dengan jelas bahwa ia membubuhkan sebuah kalimat yang berkata, “Apabila Aku (Tuhan-red) lapar maka engkau (kita-red) yang akan memberi Aku makan, apabila Aku haus maka engkau yang akan memberi Aku minum, dan apabila Aku tidak berpakaian maka engkau yang akan memberi Aku pakaian.” Luar biasa! Sebegitulah Tuhan menginginkan kita untuk berbagi rezeki-rezeki yang Ia berikan kepada kita.

Coba bayangkan bila seluruh anak muda Indonesia tergerak untuk memulai satu gerakan yang sama untuk membangun Indonesia yang lebih baik! Mungkin tidak perlu lagi ada air mata yang terurai hanya untuk sesuap nasi, segelas air, ongkos sekolah, atau bahkan anak-anak kecil yang merintih meminta susu pada ibunya. Puluhan tahun ke depan tidak ada lagi anak putus sekolah, tidak ada lagi tuna wisma, tidak ada masyarakat miskin, dan tidak ada lagi tindak kriminal. Maka bukan hanya Tuhan yang bangga pada kita, tapi kita mampu menjadi negara yang berwibawa, maju, dan memiliki harga diri di mata Internasional. Tidak harus menuntut pemerintah melakukan ini dan itu atau menghakimi mereka ketika mereka berbuat curang. Lantas, mengapa kita tidak memulainya dari sekarang? Kita, ya kita, kita sebagai generasi muda menjadi satu fondasi kokoh yang mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana suatu hari nanti aku kan dikenang.
Salam manis,

Maria Elly Munthe



2 komentar:

  1. Salam kenal juga. :)
    Terima kasih sudah berkunjung.
    Untuk mendapatkan update secara otomatis ke email anda, silahkan klik "Follow this site"
    Sekali lagi, terima kasih.

    BalasHapus