Sabtu, 30 Mei 2020

Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 2 : Cintai Diri Sendiri Dulu, Baru Mencintai Orang Lain

Hai!
Salam sejahtera!
Maaf ya, Saya baru sempat melanjutkan part 2.
Apa kabar, teman-teman?
Semoga baik-baik saja ya.
Saya sedang kurang sehat nih. Tapi justru Saya kurang sehat, makanya Saya jadi bisa melanjutkan tulisan ini disela-sela istirahat Saya yang membosankan. Hehehe...
Masih dengan pembelajaran pada pacar pertama Saya. Sedikit diralat, dari kata 'cinta pertama' menjadi 'pacar pertama', karena Saya pikir mungkin waktu itu Saya hanya sekadar tertarik bukan mencintai.
Pelajaran apa yang Saya petik?

Baca juga : Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 1 : Berteman Saja Dulu

Cintai Diri Sendiri Saja Dulu, Baru Mencintai Orang Lain

Bicara cinta, kadang kita punya pengertian yang berbeda. Ada sebagian orang yang mengartikan cinta adalah ketertarikan kepada lawan jenis. Ada pula yang menyebutkan cinta adalah rasa ingin memiliki dan membahagiakan orang lain. Padahal Saya pikir, memangnya bahagia itu pemberian? Bukankah bahagia itu keputusan? Keputusan untuk tidak terpengaruh dengan keadaan yang tidak sempurna, kondisi yang tidak sesuai harapan, dan segala macam kegagalan menurut versi diri kita masing-masing.

Setiap orang memiliki pengertian dan pendapatnya masing-masing. Bagimana dengan kamu? Menurutmu, apa sih Cinta? Saya pribadi memaknai sangat dalam arti cinta. Cinta adalah pengorbanan, penghargaan, keikhlasan, ketulusan, pengampunan, penerimaan, kejujuran dan lain sebagainya.

Pertama kali Saya bertemu Benny di gereja. Waktu itu kami mengikuti ibadah remaja di gereja lokal yang sama. Karena usia kami hanya terpaut 4 bulan dan Saya duduk 1 tingkat di bawah Benny di sekolah. Suatu ketika, kami duduk dengan membuat formasi lingkaran, Saya duduk persis berhadap-hadapan dengan Benny dengan jarak sekitar 1,5 - 2 meter. Saya menyadari betul bahwa Benny sedang memperhatikan Saya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sesekali dia tersenyum dan saling  menggoda dengan Abangnya yang duduk tepat di sebelahnya.

Sedikit informasi, karena sering di-bully di sekolah, dulu Saya memiliki gambar diri yang buruk. Bagi Saya, ketika seseorang melihat Saya sambil tersenyum berarti dia sedang menertawakan Saya. Barang kali ada yang salah dalam diri Saya. Entah pakaian Saya yang norak, salah kostum, bedak terlalu tebal atau tidak rapi, atau kesalahan-kesalahan lainnya. Padahal hal tersebut belum tentu terjadi. Bisa saja orang yang tersenyum itu justru sedang tertarik sama kita. Ya nggak?

Sebulan berlalu, sekitar empat kali pertemuan, Saya selalu menghindar untuk duduk berhadapan dengan Benny. Bahkan Saya tidak segan-segan untuk pindah, jika Benny berhasil mencari cela untuk duduk di depan Saya. Berulang kali Saya mencari tahu apa yang salah dengan diri Saya. Meski berulang kali teman-teman Saya menyakinkan bahwa sebenarnya Benny tertarik sama Saya.

Sampai akhirnya pada suatu kesempatan Benny mendekati Saya secara blak-blakan. Waktu itu kami sedang berlatih paduan suara untuk backing vocal sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani. Untuk pertama kalinya, Saya merasa dihargai, dicintai oleh orang yang bukan berasal dari keluarga kandung Saya. Saya diperhatikan, dibela ketika ada yang bully, dsb. Meskipun begitu, Saya merasa tidak aman dan tidak percaya diri. Benny yang disukai banyak wanita karena sikap baiknya, santunnya, membuat Saya merasa tidak pantas untuk menjadi pacar Benny.

Sering kali, Saya jadi minder sendiri ketika ada perempuan-perempuan yang menyebutkan dirinya sebagai pacar Benny, hanya karena mereka menyukai Benny. Mereka mengaku dijodohkan dengan Benny, padahal kalo sekarang Saya pikir-pikir jadi geli sendiri. Umur segitu masih belum cocok bicara menjodohkan dan dijodohkan ya. Hehehehe....
Belum lagi seorang teman sekelas Saya yang mengaku sedang didekati (dikejar-kejar) Benny, padahal dia mengakui sendiri bahwa Benny mengakui Saya sebagai pacarnya waktu itu.

Saya merasa mereka lebih cantik, lebih sempurna, lebih pantas untuk dikagumi, dikasih oleh Benny, dari pada Saya. Saya terpuruk dengan penolakan Saya terhadap kekurangan diri Saya. Penilaian buruk tentang diri Saya sendiri membuat banyak kesalahpahaman diantara kami. Saya tidak tahu caranya membalas perhatian, kebaikan, membangun komunikasi yang baik dan benar. Saya kerap kali menarik diri dari hubungan ini, mengalah untuk orang yang Saya anggap lebih pantas dari pada Saya.

Sekian tahun berlalu, Saya sudah banyak pulih. Dari sekian banyak konseling, Kebaktian Kebangunan Rohani, dan Seminar Kerohanian, akhirnya Saya menyadari bahwa Saya harus mencintai diri Saya apa adanya. Bagaimana pun kekurangan Saya, Saya pantas untuk dikasihi, dihargai, menerima perhatian, dan perlakuan baik lainnya. Untuk bisa menghargai orang lain, kita harus bisa menghargai diri kita sendiri dulu. Bahwa kita berharga di mata Tuhan. Begitu pula untuk bisa mencintai orang lain, kita harus mencintai diri kita sendiri dulu.

Begitu pula ada banyak orang yang bertahan dalam hubungan yang 'toxic' atau 'racun' atau 'rusak', karena gagal mencintai diri sendiri. "Aku kurang sempurna, aku kurang cantik/ganteng, aku kurang kaya, aku kurang pintar, aku kurang modis, aku kurang pintar bicara di depan umum, pekerjaanku kurang mapan, dan aku kurang... yang lainnya. Hanya kamu yang bisa nerima aku. Sebagaimana pun kamu bersikap, aku harus bisa terima." Atau mungkin merasa, "Aku nggak akan dapat yang secantik/seganteng kamu, sekaya kamu, pekerjaannya semapan kamu, karena aku begini. Aku harus mengalah sama semua kemauan kamu."
Maaf bahkan mungkin ada yang sampai pada posisi, "Aku gendut/kurus banget, aku cacat fisik, nggak ada yang mau sama aku selain kamu!"

Oh com'on guys! Berapa pun usia kamu kalau dalam hubungan ini (pacaran ya, bukan menikah), kamu tidak dihargai. Akhiri saja! Saya mau bilang sama kamu, "Kamu berharga! Kamu pantas dikasihi! Kamu pantas dihargai! Kamu pantas menerima yang terbaik! Kamu berharga di mata Tuhan!" Sebelum kita mulai memutuskan untuk membagi hidup kita dengan seseorang, baik itu berteman, bersahabat, berpacaran bahkan menikah, alangkah baiknya kita belajar mencintai diri kita sendiri dulu. Kalau pacaran saja kita tidak dihargai, apa kabar nanti menikah? Laki-laki sebagai imam, harus bisa dihargai pasangannya. Jangan jadi diinjak-injak. Demikian pula perempuan harus bisa dilindungi, bukannya dirusak, sejak masih pacaran. Karena laki-laki yang baik akan menghargai penantian atau bahasa kerennya 'worth the wait'. Bagaimana dia (laki-laki) bisa menuntunmu ke arah yang benar, kalau mengendalikan dirinya sendiri pun dia tidak bisa.

Kita harus bangga menjadi diri kita sendiri dengan segala kekurangannya. Tanpa menjadi sombong. Karena bagaimana kita menhargai dan mengasihi diri sendiri akan menjadi tolok ukur bagaimana kita menghargai dan mengasihi orang lain. Terutama pasangan kita kelak.

Sekian dulu ya part 2 nya. Sampai ketemu di-part 3. Semoga masih berkenan untuk menunggu dan membaca part 3 nya ya.
Hehehe...

Peluk hangat buat teman-teman yang juga sedang berada di fase yang sama dengan Saya, penantian Cinta Sejati.

Inilah aku, sedang secuil arti yang kuberi, sebagaimana tujuan aku diciptakan dan sebagaimana suatu hari nanti aku 'kan dikenang.

Gadis Kecil-Nya Tuhan,

- Maria Elly Rusfendy - 

Fb : Maria Elly Oktalina Saragih
IG : mariaellyrusfendy

Baca juga : Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 1 : Berteman Saja Dulu

Kamis, 14 Mei 2020

Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 1 : Jangan Terburu-buru

Shalom!
Ada suka cita tersendiri bagi Saya, ketika Saya bisa kembali menyapa teman-teman melalui tulisan Saya di blog ini. Kali ini, Saya tergerak ingin berbagi pelajaran-pelajaran kehidupan yang Saya petik dalam perjalanan pencarian Cinta Sejati yang masih Saya jalani hingga hari ini.

Part 1 : Jangan Terburu-buru, berteman saja dulu

Tidak banyak yang tahu, siapa saja laki-laki yang pernah dekat bahkan menjalin hubungan dengan Saya. Sejujurnya, Saya memang cenderung tertutup untuk kisah asmara. Mungkin keluargalah yang paling mengerti masalah ini. Sikap Saya yang tertutup ini pula yang membuat sering kali Saya di-cap "Jomblo Akut", "Tidak Laku" dan "Cewek Pemilih" serta predikat-predikat lainnya. Tanggapan Saya seperti apa? Biasanya Saya cuma menanggapi sambil tertawa atau mungkin mengalihkan pembicaraan. Daaaannn, inilah kenyataannya.

Cinta pertama Saya jatuh kepada seorang anak lelaki seusiaan Saya, anak kedua dari lima bersaudara, anak dari seorang hamba Tuhan di gereja lokal tempat Saya bertumbuh saat itu.  Sebut saja namanya Benny, bukan nama sebenarnya. Waktu itu kami masih sama-sama berusia 12 tahun, Saya duduk di kelas 1 SMP dan dia duduk di kelas 2 SMP. Kami masih terlalu kecil untuk memahami artinya pacaran. Bahkan pemahaman kami tentang pacaran pun masih sangat minim. Yang Saya tahu, pacaran itu adalah hubungan dari 2 orang manusia berlawanan jenis yang saling tertarik satu sama lain. Bahasa kerennya, saling jatuh cinta kemudian sepakat untuk menghabiskan hari-hari bersama, bercerita, mungkin juga saling mengirim surat, saling bertukar kado pada momen-momen tertentu. Yang mana seharusnya, ini hanya sepuluh persen bagian dari pacaran.

Baca juga : Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 2 : Cintai  Diri Sendiri Saja Dulu, Baru Cintai Orang Lain

Pemahaman tentang pacaran yang sedikit bergeser ini pula lah yang menjadi kendala terbesar kami. Saya tidak pernah memberi tahu bahwa orang tua dan abang Saya tidak mengizinkan Saya berpacaran dengan alasan yang Saya belum mengerti pada saat itu. Begitu pula kami terlalu jarang berjumpa, karena kami sekolah di sekolah yang berbeda dan untuk beberapa saat Saya berhenti ikut ibadah kaum remaja karena harus menjaga Ibu Saya yang jatuh sakit cukup parah. Keadaan ini akhirnya membuat terjadi berbagai kesalahpahaman yang pelik diantara kami.

Suatu kali, komunikasi yang tidak baik membuat Saya salah paham sama dia. Salah seorang teman sekelas Saya mengaku bahwa Benny membelikan sebuah boneka sebagai kado Valentine untuk nya. Saya marah besar, saya cemburu. Tidak adanya rasa percaya membuat sebuah hubungan menjadi retak. Padahal setelah beberapa waktu berlalu, menurut beberapa orang terdekat Benny, boneka itu seharusnya dibelikan untuk Saya. Yang sampai hari ini, Saya nggak pernah tahu apakah yang disebutkan sumber itu benar atau tidak.

Konflik puncak terjadi, terjadi Benny datang ke rumah Saya. Bersama seorang salah seorang teman kami. Teman itu dengan gamblangnya bertanya, "Jadi, hubungan kalian sekarang sebenarnya seperti apa?" Obrolan itu tercetus di depan orang tua Saya. Dengan sangat berat hati, Saya akhirnya menjawab, "Kami hanya berteman kok. Emangnya kenapa?" Saya bisa mengerti, mungkin hari itu Benny begitu kecewa dengan jawaban Saya. Sementara Saya sebenarnya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Benny. Saya tidak pernah bermaksud untuk tidak mengakui Benny sebagai pacar Saya. Sekali lagi, komunikasi lah yang seharusnya berperan penting di sini.

Kejadian ini memberikan tamparan keras buat Saya. Sejak saat itu, Benny tidak lagi sama. Dia bukan lagi Benny yang selama ini mengisi hari-hari Saya, Benny yang manis, Benny yang sopan, dia menjadi asing bagi Saya. Saya tidak menyalahkan Benny dalam hal ini. Saya yang salah, Saya tidak taat sama orang tua dan abang Saya. Saya tidak percaya bahwa mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk Saya.
Berangkat dari pelajaran ini pula, membuat Saya jadi tidak ingin buru-buru dalam menjalin sebuah hubungan.

Saya belajar beberapa hal dari hubungan ini, seperti :
a. Bisakah Saya memercayai orang ini?
b. Bisakah Dia memercayai Saya?
c. Seberapa jauh kami bisa saling mengomunikasikan keadaan satu sama lain?
d. Seberapa jauh kami bisa saling memahami apa yang masing-masing rasakan?

Sejak saat itu, Saya cukup trauma dengan sebuah hubungan. Saya lebih memilih menjadikan lelaki yang dekat dengan Saya menjadi sahabat dibandingkan pacar. Saya pikir jika persahabatan itu cukup berhasil, tidak menutup kemungkinan untuk menjadi pasangan.

Sekarang Saya mengerti, mengapa waktu itu orang tua dan abang Saya tidak setuju Saya pacaran pada usia yang terlalu dini. Menjalin sebuah hubungan sesungguhnya adalah luka yang tertunda. Sebuah hubungan bukanlah sekadar untuk tertawa bersama, romantis-romantis cinta monyet belaka. Tetapi hubungan bicara tentang dua kepribadian yang rela untuk melebur menjadi satu.

Pacaran bukan untuk Anak Baru Gede yang ingin memadu kasih. Tapi pacaran untuk dua orang dewasa yang ingin membangun sebuah pernikahan.
Untuk adik-adik yang masih di bawah 18 tahun, saran Saya berteman saja dulu, kenalah lebih banyak orang. Jika ada satu yang paling menarik, jadikan dia sahabat. Masa remaja hanya butuh sahabat untuk berbagi suka duka, belajar bagaimana bersikap sama orang yang kita sayangi, bagaimana menyayangi dalam batasan-batasan tertentu.
Jadi, jangan terburu-buru, berteman saja dulu!

Inilah aku dengan secuil arti yang kuberi, sebagaimana tujuan aku diciptakan dan sebagaimana suatu hari nanti aku 'kan dikenang.

- Maria Elly Rusfendy -

Baca juga : Gadis Kecil-Nya Tuhan, Part 2 : Cintai Diri Sendiri Saja Dulu, Baru Cintai Orang Lain