Salam sejahtera!
Apa
kabar saudara/i? Semoga baik-baik saja ya. Saya dan orang tua saya di sini juga
baik-baik saja. Senang sekali, saya masih memiliki kesempatan untuk berbagi isi
hati saya di blog ini. Terima kasih sekali saya panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa karena saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan impian saya
untuk berbagi kasih melalui tulisan saya di blog ini. Tidak lupa, saya juga
berterima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia mengunjungi dan membaca
tulisan-tulisan saya.
Kali
ini, saya seperti tergerak ingin sekali membahas tentang “Cinta Sejati”. Barang
kali tidak banyak di antara kita yang menyukai sinetron. Namun saya harus
mengakuinya bahwa saya adalah salah seorang di dunia ini yang cukup menyukai
sinetron. Hanya saja belakangan ini saya merasa sedikit kecewa dengan
kisah-kisah yang dituturkan melalui sinetron-sinetron di tanah air. Tidak
jarang sinetron kita hanya membahas tentang “Cinta Sejati” yang terkhianati. Ada
yang setuju dengan saya? Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar buat saya,
apakah benar sesuatu yang disebut dengan “Cinta Sejati” itu kini sudah
dijadikan permainan? Dengan mudahnya pasangan akan mendustai janji sucinya
hanya untuk kesenangan sesaat saja. Apakah ini masih bisa disebut cinta sejati?
Suatu
kali saya membuka akun instagram saya setelah sekian lama tidak sempat menghampirinya.
Foto pertama yang saya lihat adalah foto salah seorang teman saya beserta
istrinya digabungkan dalam sebuah bingkai menggunakan instaframe (bagi yang menggunakan instagram pasti tahu), di sudut kanan atas terlihat seorang bayi
mungil sudah pucat pasi. Sedangkan disudut kanan bawah memori ketika beberapa
hari yang lalu mereka menantikan kelahiran bayi mungil itu di ruang operasi. Dan
yang paling menyedihkan di sudut kiri atas dan bawah adalah foto ambulans dan sebuah
pemakaman mungil dengan salib bertuliskan nama bayi mungil itu. Terus terang
saya kaget bukan main, ketika saya mulai membaca keterangan foto tersebut. Ternyata
bayi yang mereka nanti-nantikan selama ini harus kembali meninggalkan mereka
untuk selamanya.
Entah
apa yang menjadi penyebab bayi itu meninggal dunia, tapi yang saya ketahui
bahwa ia hanya bertahan hidup sekitar selama 6 hari saja. Saya merasa itu bukan
yang terpenting, yang terpenting buat saya adalah keterangan foto itu. Pada keterangan
foto itu, teman saya menuliskan kalimat-kalimat kira-kira seperti ini :
“Dear
God, terima kasih sudah memberikan kami mujizat yang luar biasa ini. Kami memang
sangat menyayangi bayi kami, tapi kami lebih tahu bahwa Engkau lebih mengerti
bagaimana cara menyayanginya. Dan yang pasti Engkau menyayanginya jauh lebih
baik dari pada kami. Kami percaya, ini sudah yang terbaik yang dari pada-MU.
Dear
My Wife, i love you and always be. Terima
kasih sudah melalui hari-hari pernikahan kita dengan sempurna. Saling membangun,
saling menguatkan, saling mengasihi, dan saling menghibur satu sama lain. Aku percaya,
kita mampu melewati masa-masa sulit ini. Tetaplah kuat dan jangan goyah, Tuhan
sudah mempersiapkan bayi yang baru buat kita.
Dear
baby, satu hal yang kamu perlu tahu bahwa aku dan ibumu mengasihmu sejak kau
tumbuh dalam rahim ibumu. Bahkan kami sudah merasakan
kebahagiaan yang luar biasa meski kamu belum terlahir ke dunia. Kehadiranmu dan
kepergiaanmu juga mengajarkan aku dan ibumu untuk lebih mencintai satu sama
lain melebihi dari sebelumnya yang pernah kami rasakan. Terima kasih karena
kamu sudah mengajarkan ayah dan ibumu ini banyak hal. Meski kami tak memiliki
banyak waktu untuk mengurusmu, menuangkan cinta kasih kami, dan melihatmu
tumbuh dan berkembang. Menikmati masa-masa lucu dengan bertambahnya sedikit
demi sedikit kepintaranmu. Tenang, ayah akan menjaga ibumu dengan baik di sini.
Sampai bertemu di Surga ya, Nak.”
Air
mataku tak mampu berhenti mengalir ketika membaca kata demi kata yang
ditulisnya itu. Masih jelas di mataku, betapa bahagianya wanita cantik yang
berusia sekitar 30 tahunan itu ketika ia tahu bahwa dalam rahimnya sudah tumbuh
janin kecil mungil, buah cinta dirinya dan suami. Apalagi ia sudah menantikan
itu lebih dari 6 tahun pernikahan mereka. Entah sudah ke berapa ratus dokter
mereka mencoba berkonsultasi, hanya untuk mendapatkan gadis mungil di dalam
rahimnya itu.
Hatiku jauh lebih tersentuh ketika
temanku, suaminya, sama sekali tidak mengucapkan satu kata kekecewaan bahkan
justru mengucapkan kalimat yang sungguh luar biasa. Ia tidak menyalahkan
siapapun, terutama istrinya dan Tuhan. Pada saat membaca tulisan itu, ternyata
saya tidak sendirian. Ada seorang wanita muda seusia saya yang turut membaca
dari balik punggung saya. Lantas ia hanya berkomentar, “Halah, sekarang aja dia
bisa bilang begitu! Besok, lusa, bulan depan? Apa dia masih bisa mencintai
istrinya? Bodoh kalo dia masih bisa. Kenapa dia tidak cari saja wanita yang
lebih muda, lebih cantik dan lebih sehat, yang bisa sesegera mungkin memberinya
seorang anak.”
Jujur, saya kaget luar biasa
mendengar ucapan wanita muda itu. Satu sisi mungkin saya percaya bahwa teman
saya bukan tipikal lelaki seperti yang ia katakan, tapi di sisi lain rasanya apa
yang dia katakan itu seakan lebih rasional dari pada harus setia pada wanita
yang tampak secara fisik terlalu sulit untuk memberinya seorang anak. Saat itu
saya masih belum punya nyali untuk menjawab sepatah katapun, bukan berarti saya
membenarkannya atau menyerah pada pikiran yang terlihat rasional miliknya. Namun
saya masih berusaha mencari-cari bukti bahwa apa yang dikatakannya itu tidak
seharusnya dibenarkan.
Bulan demi bulan berlalu, hal yang
sama masih saja tetap sama. Saya masih melihat kesetiaan dan cinta kasih mesra
di antara mereka berdua. Justru kini mereka lebih instensif untuk meluangkan
waktu satu sama lain untuk berlibur keluar kota di sela-sela kesibukan
pekerjaan sehari-hari. Hari-hari biasa
memang mereka sungguh kekurangan waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Sedikitpun
mereka tidak membiarkan pikiran mereka susah untuk meratapi kesedihan yang
pernah melanda keluarga kecil mereka. Atau mungkin membiarkan waktu-waktu
mereka terbuang sia-sia untuk mencari tahu siapa yang salah atau apa yang seharusnya
mereka lakukan waktu itu agar tidak kehilangan bayi mereka.
Mereka sungguh menikmati apa yang
Tuhan berikan dalam hidup mereka. Teman saya itu sama sekali tidak tampak
mencari wanita lain untuk memberikan keturunan. Bahkan ia pernah berkata bahwa
cinta mereka bukan semata-mata hanya untuk memiliki keturunan saja. Saya mulai
menunjukkan pada wanita muda yang pernah mencela mereka waktu itu, meski tak
sepenuhnya ia bisa sependapat dengan saya. Positifnya, kejadian ini justru
memberi saya pelajaran bahwa tidak semua laki-laki hanya menuntut sesuatu dari
kita. “Cinta Sejati” itu masih ada. Saya yang semula merasa terlalu sulit untuk
menerima orang lain untuk lebih dekat saya menjadi pribadi yang ingin mengenal
orang lain jauh lebih dekat. Semakin hari rasa takut dan khawatir yang selama
ini masih mengikuti saya mulai pudar dan hilang. Pasti, masih ada laki-laki di
luar sana yang akan mencintai saya dengan cinta yang sempurna. Laki-laki yang
memang secara khusus diciptakan Tuhan untuk saya.
Begitu juga dengan anda, apakah anda
merasa bahwa tidak ada lagi pria yang dapat mencintai anda dengan cinta yang
sejati? Atau anda adalah pria yang merasa tidak bisa mencintai wanita dengan
cinta sejati? Anda merasa bahwa cinta yang anda punya masih sama dengan orang
kebanyakan? Ini saatnya kita untuk belajar menumbuhkan cinta sejati itu dalam
diri kita. Jangan mencintai orang lain hanya karena kebutuhan! Jangan mencintai
orang lain hanya karena tuntutan! Jangan mencintai orang lain hanya karena
kebiasaan! Tapi biarlah kita mencintai orang lain karena cinta itu memang
berasal dari Tuhan. Sehingga kita bisa menerima orang lain apa adanya, tidak
menuntut dia menjadi seperti apa yang kita inginkan. Atau mencari orang lain
ketika ia tidak bisa menjadi seperti apa yang kita harapkan.
Bila dalam keadaan kecil saja kita
tidak bisa setia dan mencintai pasangan, bagaimana bila kita sudah menjadi
orang besar? Pernikahan itu bukan permainan yang bisa diresmikan hari ini dan
diputuskan esok hari hanya karena ketidakcocokan, perbedaan pendapat,
pertengkaran-pertengkaran yang kita hadapi dalam bahtera rumah tangga. Seseorang
wanita setengah baya pernah berkata pada saya, “Jangan pernah mengharapkan pernikahan
yang sempurna atau mendapat pasangan yang sempurna. Tapi belajarlah untuk
menjadi pasangan yang sempurna, mencintai pasanganmu dengan sempurna dan
mengajarkan dia untuk mencintaimu dengan cintanya yang sempurna!” Ya, dengan
kata lain cinta sejati itu milik semua orang. PR nya, apakah kita mau menjadi
salah satu dari mereka yang memilikinya? Apakah kita mau mencari pasangan yang
setujuan memilikinya? Dan tetaplah bertanya pada Tuhan pada setiap langkah yang
kita ambil.
Inilah aku dengan sedikit arti yang
kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan.
Salam manis!
Maria Elly
Oktalina Munthe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar