Salam sejahtera!
Sebelum memulai artikel saya yang
kali ini, saya ingin menyempatkan diri untuk berterima kasih kepada para
pembaca yang sudah sudi membaca artikel ini dan artikel sebelumnya. Sesuai
dengan judulnya, “Siapakah Yang Mampu Mengubah Indonesia?” (Bagian 2) sudah
tentu ada bagian 1 nya. Kali ini, jemari saya tidak sabar ingin mengungkapkan
apa yang sudah diucapkan oleh lubuk jiwa saya untuk mengusung Indonesia menuju generasi-generasi
muda yang lebih baik. Dengan pertanyaan yang sama, siapa yang mampu mengubah
Indonesia? Indonesia dapat berubah menjadi lebih baik tidak cukup dengan
perbaikan sumber daya manusia pada masa yang akan datang. Lantas bagaimana
nasib masyarakat miskin yang kini masih bergelimpangan di pinggir-pinggir
jalan, di sudut-sudut kota?
Suatu kali saya terlibat
perbincangan dengan beberapa orang tentang Indonesia yang lebih baik. Tidak
jarang diantara kami hanya bisa menghujat pemerintah, terutama bagi penguasa
yang sudah menyalahgunakan kekuasaan mereka. Ingin sekali rasanya saya
bertanya, “Apakah hanya mereka yang salah?” Namun waktu itu belum saatnya saya
untuk bertanya, karena saya belum menemukan jawabannya. Dalam setiap detik
hembusan nafas saya, selalu mencari-cari jawabannya. Hingga akhirnya suatu hari
saya melihat acara infotainment yang meliput kelimpahan harta dan gaya hidup
mewah ala selebriti dan kaum sosialita. Angan-angan saya lantas kembali pada
pemandangan ibu kota yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak mampu melawan
arus kerasnya kehidupan ekonomi.
Bayangkan bila sebuah tas milik
salah satu selebriti-selebriti itu dijual, mungkin bisa saja membangun sebuah rumah
layak huni bagi saudara-saudara kita yang kini masih tidur di emperan toko. Sedangkan
mereka membeli barang-barang mewah itu tampaknya seperti hanya membeli kacang
goreng saja, bukan hanya satu bahkan mereka bisa membeli barang-barang itu
hingga satu kamar penuh. Bukan sebagai keperluan yang harus dipenuhi namun
hanya sekedar kepuasan lahiriah semata. Tidak salah memang bila kita membeli
barang-barang mewah sebanyak-banyaknya selagi kita mampu. Tapi akan lebih baik
bila kita tidak harus mengharapkan pemerintah semata untuk membangun Indonesia
lebih baik. Mulai dari diri kita sendiri, mungkin kita memang tidak bisa
memberikan bantuan sama seperti para selebriti yang menjual satu tasnya untuk
sebuah rumah layak huni.
Namun akan lebih berharga ketika
beberapa orang diantara kita bersatu untuk mengumpulkan sedikitnya uang untuk
membantu adik-adik kita yang belum mampu sekolah. Ataupun barang kali orang tua
mereka masih terlalu berat untuk membiayai sekolah mereka. Barang membelikan
mereka peralatan tulis menulis, tas sekolah, sepatu, seragam dan hal-hal kecil
lainnya. Saya tidak bisa membayangkan betapa mereka akan bahagia menerima
sesuatu yang masih terlihat kecil di mata kita. Bahkan bisa saja uang itu
berasal dari sisa-sisa uang jajan kita per-bulan.
Sekitar setahun yang lalu, saya
tergabung dengan sebuah kegerakan anak muda yang kami beri nama “Frontline Generation” pernah melakukan
hal yang sama. Kami berdiri dan berjalan dalam berkat-berkat Tuhan yang kami
punya. Untuk menambahi uang yang terkumpul dari kantong kami masing-masing,
kami rela mengadakan bazar amal dengan menjual makanan, minuman dan mengamen. Hasilnya,
kami membelikan alat-alat tulis seperti buku, pena, pensil, penghapus, penggaris,
sampul buku dan perautnya. Lantas, kami bergerak membungkusnya menjadi beberapa
paket untuk dibagikan kepada beberapa anak yang kami rasa pantas untuk menerima
segelintir keringat yang kami kuras untuk mereka.
Mungkin terlihat sepele tapi saya
sangat terharu ketika seorang ibu menangis sambil memeluk tubuh saya. Memang
bukan cuma saya yang dipeluknya, ia rela memeluk satu per satu anggota kami
hanya untuk mengucapkan betapa besar rasa terima kasih ibu tersebut. Ya, ia
memang sudah memiliki apapun untuk membeli peralatan anak sekolah, Puji Tuhan,
Tuhan memakai kami untuk menyalurkan berkat kepada beliau. Rasanya semangat
untuk berbagi kasih kian membara di hati setiap kami, biar bukan hanya kali ini
tapi akan berulang kali ada tangis suka cita di wajah saudara-saudari kita yang
membutuhkannya.
Selain itu, saya juga pernah melihat
dokumentasi kegiatan berbagi kasih pada akun facebook teman saya. Tampak jelas di gambar itu, mereka tengah
berbagi nasi kotak dan kain sebagai selimut bagi tuna wisma di seluruh kota
Bandung. Dalam keterangan dokumentasi itu, saya masih mengingatnya dengan jelas
bahwa ia membubuhkan sebuah kalimat yang berkata, “Apabila Aku (Tuhan-red)
lapar maka engkau (kita-red) yang akan memberi Aku makan, apabila Aku haus maka
engkau yang akan memberi Aku minum, dan apabila Aku tidak berpakaian maka
engkau yang akan memberi Aku pakaian.” Luar biasa! Sebegitulah Tuhan
menginginkan kita untuk berbagi rezeki-rezeki yang Ia berikan kepada kita.
Coba bayangkan bila seluruh anak
muda Indonesia tergerak untuk memulai satu gerakan yang sama untuk membangun
Indonesia yang lebih baik! Mungkin tidak perlu lagi ada air mata yang terurai hanya
untuk sesuap nasi, segelas air, ongkos sekolah, atau bahkan anak-anak kecil
yang merintih meminta susu pada ibunya. Puluhan tahun ke depan tidak ada lagi
anak putus sekolah, tidak ada lagi tuna wisma, tidak ada masyarakat miskin, dan
tidak ada lagi tindak kriminal. Maka bukan hanya Tuhan yang bangga pada kita,
tapi kita mampu menjadi negara yang berwibawa, maju, dan memiliki harga diri di
mata Internasional. Tidak harus menuntut pemerintah melakukan ini dan itu atau
menghakimi mereka ketika mereka berbuat curang. Lantas, mengapa kita tidak
memulainya dari sekarang? Kita, ya kita, kita sebagai generasi muda menjadi
satu fondasi kokoh yang mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik.
Inilah aku dengan sedikit arti yang
kuberi dan sebagaimana suatu hari nanti aku kan dikenang.
Salam
manis,
Maria
Elly Munthe
Mantap baya. Salam kenal.
BalasHapusSalam kenal juga. :)
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung.
Untuk mendapatkan update secara otomatis ke email anda, silahkan klik "Follow this site"
Sekali lagi, terima kasih.