Rabu, 03 September 2014

Dan Cinta Sejati Takkan Pernah Mampu Terkhianati



Salam sejahtera!

 Apa kabar saudara/i? Semoga baik-baik saja ya. Saya dan orang tua saya di sini juga baik-baik saja. Senang sekali, saya masih memiliki kesempatan untuk berbagi isi hati saya di blog ini. Terima kasih sekali saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan impian saya untuk berbagi kasih melalui tulisan saya di blog ini. Tidak lupa, saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia mengunjungi dan membaca tulisan-tulisan saya.

Kali ini, saya seperti tergerak ingin sekali membahas tentang “Cinta Sejati”. Barang kali tidak banyak di antara kita yang menyukai sinetron. Namun saya harus mengakuinya bahwa saya adalah salah seorang di dunia ini yang cukup menyukai sinetron. Hanya saja belakangan ini saya merasa sedikit kecewa dengan kisah-kisah yang dituturkan melalui sinetron-sinetron di tanah air. Tidak jarang sinetron kita hanya membahas tentang “Cinta Sejati” yang terkhianati. Ada yang setuju dengan saya? Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar buat saya, apakah benar sesuatu yang disebut dengan “Cinta Sejati” itu kini sudah dijadikan permainan? Dengan mudahnya pasangan akan mendustai janji sucinya hanya untuk kesenangan sesaat saja. Apakah ini masih bisa disebut cinta sejati?

Suatu kali saya membuka akun instagram saya setelah sekian lama tidak sempat menghampirinya. Foto pertama yang saya lihat adalah foto salah seorang teman saya beserta istrinya digabungkan dalam sebuah bingkai menggunakan instaframe (bagi yang menggunakan instagram pasti tahu), di sudut kanan atas terlihat seorang bayi mungil sudah pucat pasi. Sedangkan disudut kanan bawah memori ketika beberapa hari yang lalu mereka menantikan kelahiran bayi mungil itu di ruang operasi. Dan yang paling menyedihkan di sudut kiri atas dan bawah adalah foto ambulans dan sebuah pemakaman mungil dengan salib bertuliskan nama bayi mungil itu. Terus terang saya kaget bukan main, ketika saya mulai membaca keterangan foto tersebut. Ternyata bayi yang mereka nanti-nantikan selama ini harus kembali meninggalkan mereka untuk selamanya.

Entah apa yang menjadi penyebab bayi itu meninggal dunia, tapi yang saya ketahui bahwa ia hanya bertahan hidup sekitar selama 6 hari saja. Saya merasa itu bukan yang terpenting, yang terpenting buat saya adalah keterangan foto itu. Pada keterangan foto itu, teman saya menuliskan kalimat-kalimat kira-kira seperti ini :

“Dear God, terima kasih sudah memberikan kami mujizat yang luar biasa ini. Kami memang sangat menyayangi bayi kami, tapi kami lebih tahu bahwa Engkau lebih mengerti bagaimana cara menyayanginya. Dan yang pasti Engkau menyayanginya jauh lebih baik dari pada kami. Kami percaya, ini sudah yang terbaik yang dari pada-MU.
Dear My Wife, i love you and always be. Terima kasih sudah melalui hari-hari pernikahan kita dengan sempurna. Saling membangun, saling menguatkan, saling mengasihi, dan saling menghibur satu sama lain. Aku percaya, kita mampu melewati masa-masa sulit ini. Tetaplah kuat dan jangan goyah, Tuhan sudah mempersiapkan bayi yang baru buat kita.
Dear baby, satu hal yang kamu perlu tahu bahwa aku dan ibumu mengasihmu sejak kau tumbuh dalam rahim ibumu. Bahkan kami sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa meski kamu belum terlahir ke dunia. Kehadiranmu dan kepergiaanmu juga mengajarkan aku dan ibumu untuk lebih mencintai satu sama lain melebihi dari sebelumnya yang pernah kami rasakan. Terima kasih karena kamu sudah mengajarkan ayah dan ibumu ini banyak hal. Meski kami tak memiliki banyak waktu untuk mengurusmu, menuangkan cinta kasih kami, dan melihatmu tumbuh dan berkembang. Menikmati masa-masa lucu dengan bertambahnya sedikit demi sedikit kepintaranmu. Tenang, ayah akan menjaga ibumu dengan baik di sini. Sampai bertemu di Surga ya, Nak.”
Air mataku tak mampu berhenti mengalir ketika membaca kata demi kata yang ditulisnya itu. Masih jelas di mataku, betapa bahagianya wanita cantik yang berusia sekitar 30 tahunan itu ketika ia tahu bahwa dalam rahimnya sudah tumbuh janin kecil mungil, buah cinta dirinya dan suami. Apalagi ia sudah menantikan itu lebih dari 6 tahun pernikahan mereka. Entah sudah ke berapa ratus dokter mereka mencoba berkonsultasi, hanya untuk mendapatkan gadis mungil di dalam rahimnya itu.

Hatiku jauh lebih tersentuh ketika temanku, suaminya, sama sekali tidak mengucapkan satu kata kekecewaan bahkan justru mengucapkan kalimat yang sungguh luar biasa. Ia tidak menyalahkan siapapun, terutama istrinya dan Tuhan. Pada saat membaca tulisan itu, ternyata saya tidak sendirian. Ada seorang wanita muda seusia saya yang turut membaca dari balik punggung saya. Lantas ia hanya berkomentar, “Halah, sekarang aja dia bisa bilang begitu! Besok, lusa, bulan depan? Apa dia masih bisa mencintai istrinya? Bodoh kalo dia masih bisa. Kenapa dia tidak cari saja wanita yang lebih muda, lebih cantik dan lebih sehat, yang bisa sesegera mungkin memberinya seorang anak.”

Jujur, saya kaget luar biasa mendengar ucapan wanita muda itu. Satu sisi mungkin saya percaya bahwa teman saya bukan tipikal lelaki seperti yang ia katakan, tapi di sisi lain rasanya apa yang dia katakan itu seakan lebih rasional dari pada harus setia pada wanita yang tampak secara fisik terlalu sulit untuk memberinya seorang anak. Saat itu saya masih belum punya nyali untuk menjawab sepatah katapun, bukan berarti saya membenarkannya atau menyerah pada pikiran yang terlihat rasional miliknya. Namun saya masih berusaha mencari-cari bukti bahwa apa yang dikatakannya itu tidak seharusnya dibenarkan.

Bulan demi bulan berlalu, hal yang sama masih saja tetap sama. Saya masih melihat kesetiaan dan cinta kasih mesra di antara mereka berdua. Justru kini mereka lebih instensif untuk meluangkan waktu satu sama lain untuk berlibur keluar kota di sela-sela kesibukan pekerjaan sehari-hari.  Hari-hari biasa memang mereka sungguh kekurangan waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Sedikitpun mereka tidak membiarkan pikiran mereka susah untuk meratapi kesedihan yang pernah melanda keluarga kecil mereka. Atau mungkin membiarkan waktu-waktu mereka terbuang sia-sia untuk mencari tahu siapa yang salah atau apa yang seharusnya mereka lakukan waktu itu agar tidak kehilangan bayi mereka.

Mereka sungguh menikmati apa yang Tuhan berikan dalam hidup mereka. Teman saya itu sama sekali tidak tampak mencari wanita lain untuk memberikan keturunan. Bahkan ia pernah berkata bahwa cinta mereka bukan semata-mata hanya untuk memiliki keturunan saja. Saya mulai menunjukkan pada wanita muda yang pernah mencela mereka waktu itu, meski tak sepenuhnya ia bisa sependapat dengan saya. Positifnya, kejadian ini justru memberi saya pelajaran bahwa tidak semua laki-laki hanya menuntut sesuatu dari kita. “Cinta Sejati” itu masih ada. Saya yang semula merasa terlalu sulit untuk menerima orang lain untuk lebih dekat saya menjadi pribadi yang ingin mengenal orang lain jauh lebih dekat. Semakin hari rasa takut dan khawatir yang selama ini masih mengikuti saya mulai pudar dan hilang. Pasti, masih ada laki-laki di luar sana yang akan mencintai saya dengan cinta yang sempurna. Laki-laki yang memang secara khusus diciptakan Tuhan untuk saya.

Begitu juga dengan anda, apakah anda merasa bahwa tidak ada lagi pria yang dapat mencintai anda dengan cinta yang sejati? Atau anda adalah pria yang merasa tidak bisa mencintai wanita dengan cinta sejati? Anda merasa bahwa cinta yang anda punya masih sama dengan orang kebanyakan? Ini saatnya kita untuk belajar menumbuhkan cinta sejati itu dalam diri kita. Jangan mencintai orang lain hanya karena kebutuhan! Jangan mencintai orang lain hanya karena tuntutan! Jangan mencintai orang lain hanya karena kebiasaan! Tapi biarlah kita mencintai orang lain karena cinta itu memang berasal dari Tuhan. Sehingga kita bisa menerima orang lain apa adanya, tidak menuntut dia menjadi seperti apa yang kita inginkan. Atau mencari orang lain ketika ia tidak bisa menjadi seperti apa yang kita harapkan.

Bila dalam keadaan kecil saja kita tidak bisa setia dan mencintai pasangan, bagaimana bila kita sudah menjadi orang besar? Pernikahan itu bukan permainan yang bisa diresmikan hari ini dan diputuskan esok hari hanya karena ketidakcocokan, perbedaan pendapat, pertengkaran-pertengkaran yang kita hadapi dalam bahtera rumah tangga. Seseorang wanita setengah baya pernah berkata pada saya, “Jangan pernah mengharapkan pernikahan yang sempurna atau mendapat pasangan yang sempurna. Tapi belajarlah untuk menjadi pasangan yang sempurna, mencintai pasanganmu dengan sempurna dan mengajarkan dia untuk mencintaimu dengan cintanya yang sempurna!” Ya, dengan kata lain cinta sejati itu milik semua orang. PR nya, apakah kita mau menjadi salah satu dari mereka yang memilikinya? Apakah kita mau mencari pasangan yang setujuan memilikinya? Dan tetaplah bertanya pada Tuhan pada setiap langkah yang kita ambil.

Inilah aku dengan sedikit arti yang kuberi dan sebagaimana tujuan aku diciptakan.

Salam manis!


 
Maria Elly Oktalina Munthe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar