Jumat, 10 Maret 2017

Surat Cinta dari Gadis Kecil-nya Tuhan : Hidup yang Seimbang

Salam kasih buat Sahabat-sahabatku terkasih,

Sungguh syukur yang luar biasa bagi Saya, masih dapat berbagi secuil dari sekian banyak hal yang Tuhan titipkan dalam hati Saya. Entah kenapa Saya tergerak untuk berbagi tentang 'Keseimbangan Hidup'. Benak Saya terus saja terlempar kembali ke salah satu momen paling berharga dalam hidup Saya.

Saat itu, Ibu Saya sedang terbaring di salah satu tempat tidur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Duri. Sebelum tengah malam, seorang Bapak seumuran Ibu Saya masuk sebagai pasien baru di ruang rawat inap yang sama. Jujur, kondisi Bapak tersebut sangat memprihatikan. Ia kerap kali sesak nafas karena pembengkakan pada bilik jantung dan batuk berdahak yang menjangkit sekaligus.

Baca juga : 5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pria dalam Memilih Pasangan Hidup

Semakin larut, satu per satu pasien terlelap berikut keluarga-keluarga yang menunggui pasien. Karena memang kita bukan orang yang punya latar belakang pendidikan medis jadi rasanya tidak banyak bantuan yang bisa berikan. Toh, perawat-perawat juga sudah memberikan pertolongan pertama berbentuk oksigen murni dan beberapa suntikan hasil konsultasi dokter jaga dan dokter spesialis penyakit dalam.

Sedang lelap-lelapnya bermimpi, seisi ruangan itu terganggu dengan suara tangis istri dari Bapak yang sesak-sesak tersebut. Ternyata sang Bapak kambuh, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Entah karena terlalu lelah, Saya tetap berusaha memejamkan mata, membaringkan tubuh meski otak Saya terus terjaga. Sedangkan keluarga pasien hanya asyik menggerutu satu dengan lainnya karena tidak bisa tidur mendengar tangisan sang Ibu. Ada juga hanya bisa jadi penonton, sesekali menghibur, ada yang berdoa di dalam hati tanpa melakukan pertolongan apapun. Tak seorang pun terpikir untuk membantu memanggilkan perawat.h

Hingga akhirnya, Ibu saya juga terbangun. Dalam kondisi tubuhnya yang lemah, ia berkata dari balik kain gorden yang memisahkan antar pasien, "Ibu jangan menangis. Menangis gak akan membantu. Sini Saya kasih botol air mineral dan air panas, nanti Ibu kompreskan di dada Bapak." Demikian kira-kira instruksi Ibu Saya waktu. Singkat cerita, Saya beri sang Ibu botol air mineral diisi air panas. Lantas beliau mengompres dada si Bapak yang semakin sesak. Kemudian Saya minta tolong keluarga pasien yang laki-laki untuk memanggil perawat ke ruang perawat.

Sejenak setelah kejadian itu, Saya justru semakin tidak bisa tidur. Meski si Bapak itu sudah tidak sesak lagi dengan bantuan kompresan air panas dan pasti istrinya juga sudah bisa beristirahat lega. Dalam benak Saya terlintas, "Kenapa ya, Saya gak tergerak untuk membantu atau sedikitnya mulai berpikir untuk melakukan sesuatu? Kenapa justru mama yang dalam kondisi lemah bisa berpikir sejauh itu dan menyelesaikan persoalan?"

Baca juga : 5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pria dalam Memilih Pasangan Hidup

Tanpa kita sadari dalam hidup, kita sering berprilaku seperti yang Saya dan keluarga pasien lain lakukan. Ada yang hanya bisa mengomentari keadaan orang lain, ada yang hanya sekedar datang dan menghibur bahkan berdoa tanpa berusaha bertanya dan memberikan tindakan nyata sebagai bantuan yang sesungguhnya.

Kemudian Saya juga teringat, di lain kesempatan, Ibu Saya juga pernah bercerita tentang satu kejadian tak terlupakan bagi Ibu Saya. Suatu hari Tulang Saya (abang Ibu Saya) sedang bekerja di gudang peti jenazah, tepat di sebelah rumah Opung Saya (kakek dan nenek Saya). Tiba-tiba ada dua orang muda berkejar-kejaran, mereka tampak sedang bertengkar karena orang yang mengejar membawa senjata tajam seolah ingin menghujamkannya ke tubuh orang yang dikejarnya. Semua orang di sekitar sekonyong-konyong berlarian menghindar dan menutup pintu rumah mereka.

Sayangnya, orang yang dikejar-kejar itu berhasil menyelinap masuk ke rumah tetangga depan rumah Opung Saya. Pemilik rumah hanya menutup pintu rapat-rapat, mencegah sang lawan masuk. Namun hal ini justru membuat lelaki muda itu semakin tersulut emosi. Ia menghujamkan senjatanya berulang kali ke pintu tersebut. Tak seorang pun berani berkutik. Sepertinya suara palu bertemu paku sebelumnya menutupi pendengaran Tulang Saya. Hingga akhirnya suara keributan itu terdengar oleh Tulang Saya yang sedang sibuk bekerja di gudang peti jenazah.

Tanpa berpikir panjang, Tulang Saya datang menolong. Berhubung lelaki itu membawa senjata tajam Tulang Saya mengambil sebalok kayu besar sebagai alternatif perlindungan. Kemudian memukul-mukul balok kayu yang dibawanya ke tembok pagar rumah tetangga untuk menakut-nakuti dan mengusir lelaki bersenjata tajam itu. Tulang Saya menjagai sampai keadaan sudah benar-benar aman.

Baca juga : 5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pria dalam Memilih Pasangan Hidup

Tapi Ibu Saya justru menimpali, "Dek, sebegitulah karakter Tulangmu. Dia orang yang peduli dan berempati, bukan sekedar bersimpati. Peduli itu bukan sekedar diucapkan, dijadikan basa-basi tapi DILAKUKAN. Kamu tahu 'kan, Tulangmu itu bukan orang yang rajin gereja tapi secara tidak langsung dia sudah melakukan 'SATU' dari isi Firman."

Saya tidak bermaksud merendahkan Almarhum Tulang Saya. Saya juga tidak bangga dengan Tulang Saya tidak rajin gereja. Tapi dari dua kejadian itu, Saya belajar satu hal, "Hidup harus Seimbang." Keseimbangan yang tanpa kita sadari akan tergambar jelas dari perilaku kita sehari-hari, tanpa harus direkayasa terlebih dahulu.

Baiklah, sekian dulu ya dari Saya. Kapan-kapan kalo ada kesempatan, Saya akan berbagi isi hati Saya lagi ya.

Inilah aku dengan sedikit arti yang keberi.

Salam manis,

Gadis Kecil-nya Tuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar