Salam sejahtera!
Senang sekali saya masih memiliki kesempatan untuk menulis posting-an terbaru di blog pribadi saya ini. Rasanya ada sedikit beban yang berkurang dari lubuk hati saya ketika berhasil menggoreskan sebuah kisah yang dapat berarti buat teman-teman pembaca.
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya sekitar seminggu yang lalu. Tepatnya hari Jumat, 1 Agustus 2014 pukul 23.30 waktu Indonesia bagian barat, saya sedang menikmati waktu-waktu bersama dengan kedua orang tua saya. Sudah seperti biasanya, saya dan kedua orang tua saya sering tidur cukup larut karena beberapa kegiatan yang memang harus kami selesaikan pada malam hari. Salah satunya adalah menyelesaikan Tugas Akhir studi perguruan tinggi saya. Namun kali ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, saya, mama dan papa terlihat begitu bahagia. Sebelum saya membuat segelas teh manis untuk papa saya, saya meneguk sedikit air minum tiba-tiba rasanya air itu tidak dapat masuk ke dalam tenggorokan saya. Beberapa detik kemudian air itu terasa mengalir masuk hingga ke ulu hati saya. Entah apa yang terjadi, saya merasakan sakit yang luar biasa mulai dari rongga leher hingga rongga perut saya. Dalam hitungan detik pula, saya terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Tubuh saya menghatam meja osin yang tadinya dihuni oleh laptop, gelas minum mama saya dan beberapa barang-barang kecil. Tentu saja tubuh saya yang cukup besar ini berhasil menghamburkan semua benda-benda itu ke lantai. Bunyi keras yang dihasilkan benda itu bagaikan menyambar jiwa mama dan papa saya. Ada apa? Barang kali pertanyaan itulah yang terlintas dalam benak mereka. Menurut cerita mama, mata saya masih melotot ketika tubuh saya sudah terbaring lemah tak berdaya dan kaki kaku. Namun mama saya hanya bisa menangis sambil menyebut nama Tuhan, ia spontan mengusap-usap kepala dan wajah saya sambil berdoa. Sedangkan papa saya sudah sangat kalut sembari memugut laptop yang sudah terpelanting ke lantai. Ia mengambilkan segelas air untuk dibasuhkan ke wajah saya.
Dalam hitungan menit, akhirnya saya sadar juga. Saya bingung, mengapa mama menangis? Mengapa papa sudah kalut bukan main. Karena seingat saya, saya hanya merasakan sakit yang luar biasa dan berusaha untuk duduk saja. Mereka membasuh muka saya dengan air bersih, membaringkan saya sejenak, kemudian memberikan saya segelas susu, roti, dan membiarkan saya beristirahat. Sebelumnya, mama dan papa saya mengira bahwa saya kerasukan roh jahat namun ketika saya berkata "Aku tidak kerasukan Ma, Pa." barulah mereka percaya bahwa yang bangkit dalam tubuh saya adalah saya sendiri, bukan makhluk lain. Setelah sedikit lebih tenang, saya menjelaskan apa yang terjadi sebelum saya tidak menyadari mengapa saya bisa tergeletak tepat di dekat mama saya. Tidak ada yang tahu persis bagaimana saya bisa jatuh, karena memang mama dan papa saya tengah membelakangi posisi saya berdiri.
Mendengar cerita saya, mama saya menyimpulkan bahwa air yang saya minum barang kali tidak masuk pada jalur yang tepat. Entah berapa jumlahnya, tapi barang kali ada air yang masuk hingga ke paru-paru saya yang menyebabkan saya jatuh pingsan. Karena setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis THT, beliau berkata bahwa tidak ada gangguan pada saluran pernafasan, saluran makanan saya, dan kondisi tubuh saya juga stabil. Sedangkan kalau memang yang disebutkan mama saya itu benar, suatu mujizat saya bisa bangun kembali dan saat ini bisa menuliskan kisah ini di blog saya. Secara medis, paru-paru sama sekali tidak bisa dibahasi oleh air bahkan setetes pun tidak boleh. Ada banyak kasus yang sama, ketika air masuk ke dalam paru-paru seseorang maka orang itu bisa saja meninggal.
Hal ini rasanya begitu memukul jiwa saya, bayangkan bila saat itu adalah saat terakhir saya membuka mata dan harus kembali ke pangkuan Bapa. Apa yang sudah saya berikan bagi orang-orang yang saya sayangi? Apa yang orang lain dapat kenang dari diri saya? Belum ada sedikit pun hal-hal yang cukup berharga dari diri saya yang dapat saya berikan untuk orang-orang di sekitar saya. Sejak saat itu, saya rasanya terdorong untuk melakukan banyak hal yang berarti bagi sesama meski hal-hal itu hanya hal-hal kecil yang bahkan tidak mengurangi sedikit apapun dari diri saya. Saya termotivasi untuk lebih menggali potensi dalam diri saya agar suatu hari nanti ketika saya sudah tinggal nama maka masih ada hal-hal baik dan kenangan-kenangan indah yang saya tinggalkan, berguna untuk orang lain dan pantas untuk dikenang.
Demikian pula dengan sobat muda, sudahkah kita melakukan sesuatu yang dapat membuat kita dikenang kelak? Sudahkah kita menghabiskan waktu-waktu yang berharga dengan orang-orang terdekat kita? Sudahkah kita mampu mengampuni orang yang menyakiti kita? Sudahkah kita memiliki sedikit arti agar dunia mengerti bahwa kita ini berarti. Kita tidak tahu bilamana waktu kita habis, bahkan ketika kita sehat-sehat saja bukan berarti kita bisa santai dan berleha-leha. Waktu-waktu itu jahat, ia bagaikan singa lapar yang siap menerkam orang-orang yang menyia-nyiakannya. Lantas, akankah kita memberikan diri kita pada singa-singa lapar itu? Mari, jangan biarkan singa lapar itu menerkammu. Berikan sedikit saja arti, dan mulailah membangun arti agar dunia mengerti bahwa kita ini berarti. :)
Inilah aku dan sedikit arti yang kuberi, sebagaimana suatu hari nanti aku akan dikenang.
Salam semangat muda,
Maria Elly Munthe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar